Ketika nabi Ibrahim menempatkan Ismail, putranya yang masih bayi, dan istrinya Siti Hajar di suatu lembah yang dikenal dengan sebutan Bakka. Siti Hajar ber
tanya, “Allahu amaraka bihaadza (Apakah ini perintah Allah)?”. Ibrahim menjawab :”Ya”. Mendengar jawaban ini Siti Hajar berkata :”Kalau begitu aku merasa tenang, karena aku yakin Allah tidak akan meninggalkanku”.
Lembah
Bakka adalah suatu tempat yang tidak memiliki pepohonan dan sumber air,
tanahnya gersang, tanpa tanda-tanda kehidupan. Dalam surat Ibrahim ayat 37
Allah menggambarkan tempat tersebut dengan ungkapan “Bi waadin ghairi dzii zar’in”
artinya lembah yang tidak ada pepohonan. Kalimat ini menunjukan bahwa tempat
tersebut secara lahiriyah bisa menyebabkan kematian.
Tidak
lama setelah Nabi Ibrahim meninggalkannya. Siti Hajar melihat Nabi Ismail
menangis kehausan. Hajar kemudian berikhtiar mencari sumber air, ia berlari ke
bukit Shafa karena terlihat seperti genangan air, ternyata ketika sampai disana
tidak ada apa-apa, itu hanya fatamorgana. Hajar menoleh ke belakang, ia melihat
lagi seperti genangan air di bukit seberangnya, Marwah. Ia pun berlari menuju
tempat itu ternyata tidak ditemukan apa pun, itu hanya fatamorgana.
Hajar
tidak putus asa, ia bolak-balik antara bukit Shafa dab Marwah sampai ia
merasakan kelelahan yang luar biasa. Akhirnya ia kembali menghampiri putranya
yang terus menerus menangis, dan….Subhanallah! ternyata dari dekat kaki
putranya yang sedang meronta keluar air yang jernih. Sampai sekarang, air itu
masih mengalir, yang dikenal dengan Sumur Zamzam.
Peristiwa
ini mengajarkan pada kita bahwa keyakinan akan pertolongan Allah, do’a serta
ikhtiar adalah tiga hal yan tidak bisa terpisahkan. Dalam setiap keadaan,
sesulit apapun itu, tanamkan rasa prasangka baik kepada Allah, bahwa Allah Yang
Maha Berkuasa akan menolong kita. Allah-lah satu-satunya sumber pengharapan dan
tempat bergantung kita.
Keyakinan
ini kemudian ditindaklanjuti dengan kekhusyuan dalam berdoa. Do’a merupakan
gambaran kedekatan kita dengan Allah swt, dan gambaran bahwa kita yakin hanya
Allah tempat bergantung dan yang bisa menyelesaikan kesulitan yang dihadapi. Jangan
pernah berhenti berdo’a, berdo’a dan berdo’a.
Jangan
lupa, do’a yang tulus harus dibarengi dengan ikhtiar yang tiada henti, usaha
yang tiada lelah dan kerja keras yang tak pernah padam. Siti Hajar yakin kalau
Allah akan menolongnya, namun ia tidak berpangku tangan menunggu
pertolongan-Nya. Siti Hajar berlari bolak-balik dari Shafa ke Marwah, dari
Marwah ke Shafa, ia kerahkan segala daya dan usahanya untuk mendapatkan apa
yang dicarinya.
“….Berusahalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang
beriman akan melihat usahamu….”(Q>S At-Taubah 9:105)
“….Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum sehingga mereka
mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah
menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka taka da yang dapat menolaknya
dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (Q.S Ar-Ra’du
13:11)
Kalau
sudah berikhtiar dan berdo’a, namun ternyata tidak membuahkan hasil seperti
yang kita harapkan, yakinlah bahwa dibalik semua kegagalan ini pasti ada hikmah
yang lebih baik. Boleh jadi kita membenci sesuatu, namun dibalik itu ada hikmah
kebaikan. Sebaliknya, boleh jadi kita menyukai sesuatu, namun dibalik itu ada
keburukannya. Karenanya kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah. Bahwa
Allah hanya akan memberikan yang terbaik untuk kita.
Hubungan antara takdir dan
ikhtiar
Percaya
kepada takdir termasuk rukun iman yang wajib kita Imani. Rasulullah bersabda “ Hendaklah engkau beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir dan engkau beriman kepada
takdir baik dan buruknya”(HR Muslim). Takdir berarti ukuran, ketentuan dan
kepastian. Kata takdir banyak disebut dalam Al-Quran. Dengan takdir-Nya, Allah
menciptakan segala sesuatu di alam raya ini beragam bentuk dan warna, baik
benda mati maupun makhluk hidup, manusia, binatang, gunung-gunung,
tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan bunga-bunga, ada bunga mawar yang berwarna
merah, bunga melati yang berwarna putih warna hijaunya dedaunan, putihnya
salju, beningnya air hujan. Dan macam-macam paduan warna tertata rapid an serasi
sehingga sedap pandang dimata.
Harun
Yahya memberikan ilustrasi takdir dengan mengatakan. “Bayangkan anda melangkah
memasuki toko dan melihat kain dengan berbagai desain dan model dengan
warna-warni yang selaras satu sama lain. Tentu saja, desain kain-kain itu tidak
berada secara kebetulan, tetapi ada yang secara sadar menggambar rancangan
sampai menentukan warnanya, bukan diperoleh secara kebetulan akibat ada cat-cat
yang tumpah diatas kain itu.
Demikian
halnya dengan alam semesta nan indah dan sangat menakjubkan ini. Sungguh ada
sebuah kehendak sadar yang menyajikan pemandangan yang kita kita lihat di alam ini
setiap saat. Dia adalah Allah swt Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Pencipta. “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu
menurut ukuran (takdir)” (QS Al Qomar 54:49).
Paul
Davies salah seorang ilmuan penemu teori Fisika Kuantum menyebutkan “Alam raya
ini perluasannya dimulai dengan peristiwa chaotic berupa Big Bang, yaitu
ledakan dahsyat yang kacau balau, tetapi anehnya berkembang dan membawa
implikasi cosmos sebuah dunia yang indah dan teratur bahkan memiliki rumus
matematis. Jelasnya Big Bang bukanlah sekedar ledakan jaman dulu tetapi ledakan
yang terencana dengan sangat cermat”
Sementara
Stephen Hawking menyebutkan “andaikata laju atau kecepatan pengembangan alam
semesta ini dalam satu detik setelah dentuman besar (Big Bang) berkurang, meski
hanya sebesar satu perseratus ribu juta (10 ⁻ˡ⁷), alam semesta ini akan telah
runtuh sebelum pernah mencapai ukurannya yang sekarang.
Isaac
Newton menegaskan “Sistem matahari,planet-planet dan komet yang sangat indah
ini hanya dapat berlangsung dan kendali zat cerdas dan berkuasa. Zat ini
mengatur segalanya, bukan sebagai sukma dunia namun sebagai Tuhan bagi semuanya
dan demi kekuasaan-Nya. Dia bisa disebut Tuhan Penguasa semesta alam”
Ustadz
Sayyid Quthb menyebutkan “Alam semesta ini sungguh sempurna dan terencana,
hingga tiada suatu peristiwa kecuali sudah ditetapkan sebelum itu diciptakan
muncul. Semua sudah dirancang dari semula dan tidak ada tempat bagi terjadinya
peristiwa karena kebetulan, juga tidak ada di alam semesta kejadian di luar
peraturan Allah st yang terhimpun di buku Lauh
Mahfuz”
Pernyataan para ilmuwan ini
menegaskan bahwa apa yang terjadi di alam semesta bukan suatu kebetulan, tetapi
ada Tuhan Yang Maha Pencipta dan Mengatur, yaitu Allah swt Inilah takdir untuk
alam semesta. Manusia adalah makhluk yang merupakan bagian dari alam semesta,
maka manusia pun terikat oleh takdir.
Bisa
disimpulkan bahwa secara biologis manusia terikat oleh takdir (ketetapan Allah)
karena dia merupakan bagian dari kesemestaan. Alam semesta dan benda-benda
tidak akan dimintai pertanggungjawaban karena tidak diberi “kehendak”. Alam semuanya
“tunduk, patuh, taat, tidak punya kehendak apa pun”. Jadi alam semesta dan
benda-benda hanya tunduk pada takdir atau aturan yan Allah swt tetapkan.
Sementara
manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, karena manusia bukan
sekedar taat pada takdir yang Allah tetapkan. Namun, diberi potensi naluri,
indera, intelektual dan spiritual untuk melakukan sesuatu. Sehingga menjadikan
manusia itu sebagai makhluk yang diberi kemampuan “berkehendak”. Disinilah perbedaan
antara takdir yang ada pada alam dan pada manusia. Manusia diberi peluang untuk
berikhtiar, berusaha mencari takdir yang paling baik untuk dirinya.
Ketika
Umar bin Khattab r.a melakukan perjalanan menuju Syam, tersebar berita bahwa
disana sedang terjadi wabah cacar. Mendengar berita tersebut, Umar r.a
memutuskan untuk membatalkan keberangkatannya dan kembali ke Madinah. Melihat keputusan
Umar r.a seperti itu Abu Ubaidah r.a berkata “Benar, kami lari dari takdir
Allah untuk mendapatkan takdir Allah lainnya”
Ucapan
Umar r.a ini menggambarkan bahwa kita diberi pilihan dengan ikhtiar atau usaha
untuk memilih takdir yang paling baik bagi diri kita. Karena itu, keimanan pada
takdir idealnya melahirkan semangat kerja keras dan ikhtiar yang tiada putus
dalam mewujudkan suatu harapan atau cita-cita.
Kesimpulannya,
kita harus yakin bahwa Allah telah menciptakan manusia dengan takdirnya. Kita harus
yakin bahwa manusia diberi pilihan untuk memilih takdir yang paling baik untuk
dirinya. Keimanan pada takdir harus mendorong manusia selalu berusaha sebaik
mungkin. Sementara hasilnya diyakini merupakan takdir Allah. Yakinlah bahwa
Allah swt tidak akan menzalimi hamba-Nya. Wallahu A’lam.

No comments:
Post a Comment