Pages - Menu

Sunday, 11 January 2015

#038 Antara Takdir dan Ikhtiar


               
Ketika nabi Ibrahim menempatkan Ismail, putranya yang masih bayi, dan istrinya Siti Hajar di suatu lembah yang dikenal dengan sebutan Bakka. Siti Hajar ber
tanya, “Allahu amaraka bihaadza (Apakah ini perintah Allah)?”. Ibrahim menjawab :”Ya”. Mendengar jawaban ini Siti Hajar berkata :”Kalau begitu aku merasa tenang, karena aku yakin Allah tidak akan meninggalkanku”.
                Lembah Bakka adalah suatu tempat yang tidak memiliki pepohonan dan sumber air, tanahnya gersang, tanpa tanda-tanda kehidupan. Dalam surat Ibrahim ayat 37 Allah menggambarkan tempat tersebut dengan ungkapan “Bi waadin ghairi dzii zar’in” artinya lembah yang tidak ada pepohonan. Kalimat ini menunjukan bahwa tempat tersebut secara lahiriyah bisa menyebabkan kematian.
                Tidak lama setelah Nabi Ibrahim meninggalkannya. Siti Hajar melihat Nabi Ismail menangis kehausan. Hajar kemudian berikhtiar mencari sumber air, ia berlari ke bukit Shafa karena terlihat seperti genangan air, ternyata ketika sampai disana tidak ada apa-apa, itu hanya fatamorgana. Hajar menoleh ke belakang, ia melihat lagi seperti genangan air di bukit seberangnya, Marwah. Ia pun berlari menuju tempat itu ternyata tidak ditemukan apa pun, itu hanya fatamorgana.
                Hajar tidak putus asa, ia bolak-balik antara bukit Shafa dab Marwah sampai ia merasakan kelelahan yang luar biasa. Akhirnya ia kembali menghampiri putranya yang terus menerus menangis, dan….Subhanallah! ternyata dari dekat kaki putranya yang sedang meronta keluar air yang jernih. Sampai sekarang, air itu masih mengalir, yang dikenal dengan Sumur Zamzam.
                Peristiwa ini mengajarkan pada kita bahwa keyakinan akan pertolongan Allah, do’a serta ikhtiar adalah tiga hal yan tidak bisa terpisahkan. Dalam setiap keadaan, sesulit apapun itu, tanamkan rasa prasangka baik kepada Allah, bahwa Allah Yang Maha Berkuasa akan menolong kita. Allah-lah satu-satunya sumber pengharapan dan tempat bergantung kita.
                Keyakinan ini kemudian ditindaklanjuti dengan kekhusyuan dalam berdoa. Do’a merupakan gambaran kedekatan kita dengan Allah swt, dan gambaran bahwa kita yakin hanya Allah tempat bergantung dan yang bisa menyelesaikan kesulitan yang dihadapi. Jangan pernah berhenti berdo’a, berdo’a dan berdo’a.
                Jangan lupa, do’a yang tulus harus dibarengi dengan ikhtiar yang tiada henti, usaha yang tiada lelah dan kerja keras yang tak pernah padam. Siti Hajar yakin kalau Allah akan menolongnya, namun ia tidak berpangku tangan menunggu pertolongan-Nya. Siti Hajar berlari bolak-balik dari Shafa ke Marwah, dari Marwah ke Shafa, ia kerahkan segala daya dan usahanya untuk mendapatkan apa yang dicarinya.
“….Berusahalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat usahamu….”(Q>S At-Taubah 9:105)
“….Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka taka da yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (Q.S Ar-Ra’du 13:11)
                Kalau sudah berikhtiar dan berdo’a, namun ternyata tidak membuahkan hasil seperti yang kita harapkan, yakinlah bahwa dibalik semua kegagalan ini pasti ada hikmah yang lebih baik. Boleh jadi kita membenci sesuatu, namun dibalik itu ada hikmah kebaikan. Sebaliknya, boleh jadi kita menyukai sesuatu, namun dibalik itu ada keburukannya. Karenanya kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah. Bahwa Allah hanya akan memberikan yang terbaik untuk kita.
Hubungan antara takdir dan ikhtiar
                Percaya kepada takdir termasuk rukun iman yang wajib kita Imani. Rasulullah bersabda “ Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir dan engkau beriman kepada takdir baik dan buruknya”(HR Muslim). Takdir berarti ukuran, ketentuan dan kepastian. Kata takdir banyak disebut dalam Al-Quran. Dengan takdir-Nya, Allah menciptakan segala sesuatu di alam raya ini beragam bentuk dan warna, baik benda mati maupun makhluk hidup, manusia, binatang, gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan bunga-bunga, ada bunga mawar yang berwarna merah, bunga melati yang berwarna putih warna hijaunya dedaunan, putihnya salju, beningnya air hujan. Dan macam-macam paduan warna tertata rapid an serasi sehingga sedap pandang dimata.
                Harun Yahya memberikan ilustrasi takdir dengan mengatakan. “Bayangkan anda melangkah memasuki toko dan melihat kain dengan berbagai desain dan model dengan warna-warni yang selaras satu sama lain. Tentu saja, desain kain-kain itu tidak berada secara kebetulan, tetapi ada yang secara sadar menggambar rancangan sampai menentukan warnanya, bukan diperoleh secara kebetulan akibat ada cat-cat yang tumpah diatas kain itu.
                Demikian halnya dengan alam semesta nan indah dan sangat menakjubkan ini. Sungguh ada sebuah kehendak sadar yang menyajikan pemandangan yang kita kita lihat di alam ini setiap saat. Dia adalah Allah swt Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Pencipta. “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)” (QS Al Qomar 54:49).
                Paul Davies salah seorang ilmuan penemu teori Fisika Kuantum menyebutkan “Alam raya ini perluasannya dimulai dengan peristiwa chaotic berupa Big Bang, yaitu ledakan dahsyat yang kacau balau, tetapi anehnya berkembang dan membawa implikasi cosmos sebuah dunia yang indah dan teratur bahkan memiliki rumus matematis. Jelasnya Big Bang bukanlah sekedar ledakan jaman dulu tetapi ledakan yang terencana dengan sangat cermat”
                Sementara Stephen Hawking menyebutkan “andaikata laju atau kecepatan pengembangan alam semesta ini dalam satu detik setelah dentuman besar (Big Bang) berkurang, meski hanya sebesar satu perseratus ribu juta (10 ⁻ˡ⁷), alam semesta ini akan telah runtuh sebelum pernah mencapai ukurannya yang sekarang.
                Isaac Newton menegaskan “Sistem matahari,planet-planet dan komet yang sangat indah ini hanya dapat berlangsung dan kendali zat cerdas dan berkuasa. Zat ini mengatur segalanya, bukan sebagai sukma dunia namun sebagai Tuhan bagi semuanya dan demi kekuasaan-Nya. Dia bisa disebut Tuhan Penguasa semesta alam”
                Ustadz Sayyid Quthb menyebutkan “Alam semesta ini sungguh sempurna dan terencana, hingga tiada suatu peristiwa kecuali sudah ditetapkan sebelum itu diciptakan muncul. Semua sudah dirancang dari semula dan tidak ada tempat bagi terjadinya peristiwa karena kebetulan, juga tidak ada di alam semesta kejadian di luar peraturan Allah st yang terhimpun di buku Lauh Mahfuz
Pernyataan para ilmuwan ini menegaskan bahwa apa yang terjadi di alam semesta bukan suatu kebetulan, tetapi ada Tuhan Yang Maha Pencipta dan Mengatur, yaitu Allah swt Inilah takdir untuk alam semesta. Manusia adalah makhluk yang merupakan bagian dari alam semesta, maka manusia pun terikat oleh takdir.
                Bisa disimpulkan bahwa secara biologis manusia terikat oleh takdir (ketetapan Allah) karena dia merupakan bagian dari kesemestaan. Alam semesta dan benda-benda tidak akan dimintai pertanggungjawaban karena tidak diberi “kehendak”. Alam semuanya “tunduk, patuh, taat, tidak punya kehendak apa pun”. Jadi alam semesta dan benda-benda hanya tunduk pada takdir atau aturan yan Allah swt tetapkan.
                Sementara manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, karena manusia bukan sekedar taat pada takdir yang Allah tetapkan. Namun, diberi potensi naluri, indera, intelektual dan spiritual untuk melakukan sesuatu. Sehingga menjadikan manusia itu sebagai makhluk yang diberi kemampuan “berkehendak”. Disinilah perbedaan antara takdir yang ada pada alam dan pada manusia. Manusia diberi peluang untuk berikhtiar, berusaha mencari takdir yang paling baik untuk dirinya.
                Ketika Umar bin Khattab r.a melakukan perjalanan menuju Syam, tersebar berita bahwa disana sedang terjadi wabah cacar. Mendengar berita tersebut, Umar r.a memutuskan untuk membatalkan keberangkatannya dan kembali ke Madinah. Melihat keputusan Umar r.a seperti itu Abu Ubaidah r.a berkata “Benar, kami lari dari takdir Allah untuk mendapatkan takdir Allah lainnya”
                Ucapan Umar r.a ini menggambarkan bahwa kita diberi pilihan dengan ikhtiar atau usaha untuk memilih takdir yang paling baik bagi diri kita. Karena itu, keimanan pada takdir idealnya melahirkan semangat kerja keras dan ikhtiar yang tiada putus dalam mewujudkan suatu harapan atau cita-cita.
                Kesimpulannya, kita harus yakin bahwa Allah telah menciptakan manusia dengan takdirnya. Kita harus yakin bahwa manusia diberi pilihan untuk memilih takdir yang paling baik untuk dirinya. Keimanan pada takdir harus mendorong manusia selalu berusaha sebaik mungkin. Sementara hasilnya diyakini merupakan takdir Allah. Yakinlah bahwa Allah swt tidak akan menzalimi hamba-Nya. Wallahu A’lam.

No comments:

Post a Comment