“Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya (muhasabah)
serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah
adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah
swt.” (HR Ahmad,
Tirmidzi, dan al-Hakim)
Subhanallah, di antara indikasi kecerdasan dalam pandangan Nabi saw
tergambar pada karakter manusia yang tidak lalai untuk menghisab dirinya,
dan memperhatikan amal untuk masa depan, di akhirat.
Allah SWT pun melegitiasi sabda ini dalam
firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok.” (QS. Al-Hasyr [59]:18)
Muhasabah tiada lain sebagai manifestasi realita yang pasti dihadapi
setiap manusia, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya (dihisab).” (QS. Al-Isra
[17]:36)
Muhasabah, bentuk mashdar dari hasaba-yuhasibu
yang bermakna menghitung, memperhitungkan. Muhasabah dapat diartikan,
perhitungan, memperhitungkan, introspeksi. Kata muhasabah yang bermakna
introspeksi diri –dalam bahasa Arab—disandingkan dengan kata an-nafs
adalah jiwa atau diri. Karena itu muhasabah an-nafs berarti
memperhitungkan diri, evaluasi diri, atau introspeksi diri. Namun dalam
terminologi bahasa Indonesia lebih dikenal dengan muhasabah.
Dalam persepsi urusan
duniawi, muhasabah pun menjadi salah satu indikator orang cerdas. Pasalnya
orang cerdas atau orang sukses selalu berusaha menghasilkan hari esok yang
lebih baik. Dan, untuk itu ia selalu mengevaluasi hari kemarin, untuk disiasati
direncanakan demi perbaikan hari esok. Namun dalam konteks muhasabah yang kita
bicarakan sekarang adalah muhasabah dalam urusan ukhrawi, tentang amal shaleh
demi hari esok (di akhirat).
Muhasabah menjadi sangat urgen, mengingat bila seorang akrab,
sering muhasabah, maka sejatinya ia tengah mempersiapkan diri untuk hisab yang
hakiki di akhirat (yaum al-hisab). Dengan muhasabah, hidup menjadi
tertata berjuang untuk peningkatan kebaikan diri, sibuk dengan kelemahan dan
kekurangan diri, tidak sibuk mencari kelemahan orang lain. Urgensi
muhasabah ditegaskan oleh Umar bin Khathab ra, “Hisablah diri kalian (di dunia)
sebelum dihisab (di akhirat).” Terlebih lagi, kondisi iman yang yazid wa
yanqush (bertambah dan berkurang), ditambah hadirnya setan dan syahwat yang
mengganggu aktifitas iman dan amal, maka muhasabah menjadi jalan utama agar tingkat pertambahan keimanan, dan tetap istiqamah di jalan Ilahi selalu aman terkendali.
Karena itu pula, muhasabah menjadi kebiasaan orang-orang
shaleh. Seperti, pragmen Umar bin khathab ra pernah memukul kakinya
dengan sebuah besi sembari berkata, “Apa yang engkau persembahkan hari ini
(amalan)?” Al-Ahnaf bin Qais ra pernah meletakan tangannya di atas api dan
berkata, “Rasakan panasnya, bukankah engkau melakukan dosa ini pada hari itu?”
Imam Bukhari ra pernah tertinggal shalat jamaah, maka ia menggantinya 27 kali
shalat.
Muhasabah dapat dimulai dengan dengan membandingkan antara
nikmat Allah azza wajalla dan kesalahan-kesalahannya dan antara
kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukannya. Selanjutnya dapat dilakukan pasca
melakukan amal keburukan, atau dengan agenda harian, bulanan, tahunan, dan lain
sebagainya.
Imam Ibnu Qayyim pernah mengajarkan, bahwa muhasabah
diri dapat terealisasi dalam beberapa langkah berikut.
Pertama, mulai dalam amalan fardhu, jika
melihat ada kekurangan, maka beruusahalah untuk melengkapinya,
menyempurnakannya.
Kedua, perhatikan larangan-larangan Allah SWT. Jika mengakui, merasa melakukannya, maka
segeralah bertaubat, beristighfar dan melakukan amalan kebaikan yang dapat
menghapuskannya.
Ketiga, mengintrospeksi diri atas
kelalaian. Lalai dari melakukan yang sunah dengan lebih mementingkan yang mubah,
misalnya. Langkahnya, mulai lakukan yang utama dari yang kurang utama,
pentingkan wajib dari yang sunnah, sunnah dari yang mubah, dan seterusnya.
Keempat, introspeksi diri atas apa yang
dilakukan anggota tubuh; lisan yang bicara, kedua kaki yang melangkah,
perbuatan tangan, pandangan mata, pendengaran kedua telinga.
Bila kita telah membiasakan diri dengan muhasabah –baik
harian, mingguan, bulanan, momentum ulang tahun, momentum ulang tahun
pernikahan, dan lain sebagainya– maka yakinlah sejatinya kita tengan melangkah
menuju manusia cerdas dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya.
Terakhir, ingatlah sabda Nabi saw, “Pergunakan lima
perkara sebelum lima perkara; hidupmu sebelum datangnya kematianmu, sehatmu
sebelum datangnya sakitmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, masa
mudamu sebelum datangnya masa tuamu, dan masa kayamu sebelum datangnya masa
miskinmu.” (HR. Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi). “Esok (hari Akhir)
adalah perhitungan dan tanpa amal (kesempatan beramal).” (HR. Bukhari). “Kami
adalah umat yang terakhir, tapi yang pertama kali dihisab.” (HR Ibnu Majah
dan Ahmad)
Bila Anda sudah merasa cerdas dengan asumsi-asumsi yang lain,
saatnya bangun diri agar cerdas untuk akhirat, seperti pesan Nabi kita…cerdas
dengan muhasabah diri.
Wallahu’alam
(Sumber
: Islampos)
RSS Feed
Twitter
15:54
faizal cikasose

0 comments:
Post a Comment