Dunia semakin modern,
banyak orang menyebutnya era teknologi. Manusia semakin mudah menggapai
keinginan-keinginan dengan bantuan teknologi, khususnya tekhnologi komunikasi
seperti televisi, radio, internet, radio, SMS, BBM, WA, Line, dan lain-lain.
Bukan hal yang sulit
untuk memindahkan atau bertukar budaya. Waktu dan jarak bukan lagi halangan.
Berkomunikasi dengan manusia dibelahan bumi lain bisa dilakukan secara
langsung. Apa yang terjadi trend dibelahan bumi utara bisa dalam sekejap
langsung diikuti orang-orang dibelahan bumi selatan. Gawatnya, pertukaran trend
itu diserap mentah-mentah, tanpa saringan oleh phak penerima.
Dalam pandangan Futurolog terkemuka asal
Amerika Serikat John Nsibigtt, era global yang serba teknologis sekarang ini
disebut sebagai “global lifestyle”. Menurutnya sebuah peradaban dibelahan bumi
mana pun akan terimbas oleh percepatan perubahan budaya global yang membawa apa
yang disebut The Boundless of The World (dunia tanpa batas). Akselerasi
dampaknya merambah begitu cepat di hampir semua aspek kehidupan, tak terkecuali
di negara-negara muslim sekalipun.
Budaya global yang
mengalami perkembangan amat dahsyat adalah : food, fashion, dan fun (
makanan, pakaian dan hiburan). Khusus pada budaya makan dan minum telah terjadi
varian yang cukup menonjol di lingkungan masyarakat kita, khususnya umat islam.
Budaya makan dan minum sudah mulai tercabut dari nilai-nilai asasi yang
seharusnya, yaitu untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat biologis dalam rangka
menjalani kehidupan di dunia.
Budaya itu telah
menggambarkan kepada kita, bahwa manusia haus dan lapar bukan kembali pada
pijakan yang bersifat alami yang mutlak diperlukan oleh setiap makhluk hidup.
Akan tetapi manusia haus dan lapar lebih pada konsumtifisme. Tindakan membeli
dan mengkonsumsi telah menjadi tujuan irasional dan kompulsif, karena tujuannya
terletak pada membeli dan sandaran trend itu sendiri, tanpa adanya hubungan
sedikit pun dengan manfaatnya atau kesenangan dalam membeli dan mengkonsumsi
barang-barang.
Bila manusia modern
berani mengartikulasikan konsepnya tentang surga, ia akan menggambarkannya
mirip seperti mall, pasar swalayan, restoran, kafe, atau apapun namanya yang
tersedia dengan segala macam makanan dan minuman yang dianggapnya mencerminkan
trend modern. Tentu sebaliknya, orang akan menganggap kampungan jika kita tidak
pernah mencoba atau mampu membeli makan dan minuman modern. Produk makanan
lokal yang sudah jelas enak dan halal, mereka kategorikan sebagai makanan yang
ketinggalan era. Lebih parah lagi, gaya makan dan minum trendy dibarengi dengan
keinginan dan harapan bisa menambah kebugaran dan vitalitas tinggi. Caranya
mereka menambah makanan atau minuman tambahan (suplemen) seperti energy drink,
capsule action, jamu kuat untuk pria, dan lain-lain. Bahkan dengan dalih
pengobatan atau menambah stamina banyak orang yang mulai mengkonsumsi minuman
atau daging binatang yang diharamkan seperti daging anjing, monyet, ular kobra,
tikus, kala jengking, cicak serta bagai reptil ataupun binatang buas lainnya.
Kondisi diatas
merupakan fenomena yang sebenarnya tidak selalu berbanding lurus dengan tatanan
nilai budaya lokal dan norma agama yang kita anut. Hanya manusialah, bukan
hewan atau benda-benda yang dapat merasakan bosan, jenuh, dan mengeluh dalam
gumaman panjang lebar. Rasa terasing dan ditolak hanya ada pada manusia,
manusialah yang meraasakan dirinya ditendang dari surga, dan dirinya yang
merasa ditolak oleh sesamanya sesuai persepsi masing-masing. Semua perasaan
tersebut merupakan konsekuensi kehidupan modern yang bersifat rutin, dan
gambaran akan masalah dasar mengenai ekksistensi manusia.
Maka kita sebagai
manusia beragama yang mempunyai pijakan-pijakan yang didasarkan pada
nilai-nilai wahyu, hendaknya kita selalu waspada akan semua rangkaian tipu daya
kehidupan dunia. Dan hal ini patut kita renungkan sebuah hadits “Kamu akan
mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan
sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak sekalipun,
niscaya kamu ikut memasukinya pula. Para sahabat lantas bertanya; Siapakah
mereka yang baginda maksudkan itu ya rasulullah? Rasul pun menjawab Orang-orang
yahudi dan nasrani (HR Bukhori). Dan hadits lain menegaskan : “Barangsiapa
bertasyabbuh, yakni meniru-niru tingkahlaku suatu kaum, maka ia tergolong daari
mereka (yakni termasuk kedalam kelompok kaum yang ditirunya)” (HR Imam
Ahmad dan Abu Daud)
Maksud dari hadits
diatas adalah hendaknya kita tidak selalu mengikuti trend yang populer di
lingkungan kita, kalau kita belum tahu persis, apakah hal tersebut sesuai
dengan ajaran islam atau tidak, khususnya dalam gaya hidup makan dan minum?
Sebagaimana pula yang ditegaskan rasul “Bahwa jika seseorang meniru perilaku
orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan segala adat dan kebiasaan yang melanggar
ajaran rasul berarti kita termasuk golongan tersebut. Dan jika telah terjadi
demikian adnaya, kita tidak tahu persisi akan kekhawatiran azab Allah segera
datang sebelum kita sadar akan kesalahan-kesalahan kita”.
RSS Feed
Twitter
19:06
faizal cikasose

0 comments:
Post a Comment