Wednesday, 5 November 2014




Dunia semakin modern, banyak orang menyebutnya era teknologi. Manusia semakin mudah menggapai keinginan-keinginan dengan bantuan teknologi, khususnya tekhnologi komunikasi seperti televisi, radio, internet, radio, SMS, BBM, WA, Line, dan lain-lain.
Bukan hal yang sulit untuk memindahkan atau bertukar budaya. Waktu dan jarak bukan lagi halangan. Berkomunikasi dengan manusia dibelahan bumi lain bisa dilakukan secara langsung. Apa yang terjadi trend dibelahan bumi utara bisa dalam sekejap langsung diikuti orang-orang dibelahan bumi selatan. Gawatnya, pertukaran trend itu diserap mentah-mentah, tanpa saringan oleh phak penerima.
 Dalam pandangan Futurolog terkemuka asal Amerika Serikat John Nsibigtt, era global yang serba teknologis sekarang ini disebut sebagai “global lifestyle”. Menurutnya sebuah peradaban dibelahan bumi mana pun akan terimbas oleh percepatan perubahan budaya global yang membawa apa yang disebut The Boundless of The World (dunia tanpa batas). Akselerasi dampaknya merambah begitu cepat di hampir semua aspek kehidupan, tak terkecuali di negara-negara muslim sekalipun.
Budaya global yang mengalami perkembangan amat dahsyat adalah : food, fashion, dan fun ( makanan, pakaian dan hiburan). Khusus pada budaya makan dan minum telah terjadi varian yang cukup menonjol di lingkungan masyarakat kita, khususnya umat islam. Budaya makan dan minum sudah mulai tercabut dari nilai-nilai asasi yang seharusnya, yaitu untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat biologis dalam rangka menjalani kehidupan di dunia.
Budaya itu telah menggambarkan kepada kita, bahwa manusia haus dan lapar bukan kembali pada pijakan yang bersifat alami yang mutlak diperlukan oleh setiap makhluk hidup. Akan tetapi manusia haus dan lapar lebih pada konsumtifisme. Tindakan membeli dan mengkonsumsi telah menjadi tujuan irasional dan kompulsif, karena tujuannya terletak pada membeli dan sandaran trend itu sendiri, tanpa adanya hubungan sedikit pun dengan manfaatnya atau kesenangan dalam membeli dan mengkonsumsi barang-barang.
Bila manusia modern berani mengartikulasikan konsepnya tentang surga, ia akan menggambarkannya mirip seperti mall, pasar swalayan, restoran, kafe, atau apapun namanya yang tersedia dengan segala macam makanan dan minuman yang dianggapnya mencerminkan trend modern. Tentu sebaliknya, orang akan menganggap kampungan jika kita tidak pernah mencoba atau mampu membeli makan dan minuman modern. Produk makanan lokal yang sudah jelas enak dan halal, mereka kategorikan sebagai makanan yang ketinggalan era. Lebih parah lagi, gaya makan dan minum trendy dibarengi dengan keinginan dan harapan bisa menambah kebugaran dan vitalitas tinggi. Caranya mereka menambah makanan atau minuman tambahan (suplemen) seperti energy drink, capsule action, jamu kuat untuk pria, dan lain-lain. Bahkan dengan dalih pengobatan atau menambah stamina banyak orang yang mulai mengkonsumsi minuman atau daging binatang yang diharamkan seperti daging anjing, monyet, ular kobra, tikus, kala jengking, cicak serta bagai reptil ataupun binatang buas lainnya.
Kondisi diatas merupakan fenomena yang sebenarnya tidak selalu berbanding lurus dengan tatanan nilai budaya lokal dan norma agama yang kita anut. Hanya manusialah, bukan hewan atau benda-benda yang dapat merasakan bosan, jenuh, dan mengeluh dalam gumaman panjang lebar. Rasa terasing dan ditolak hanya ada pada manusia, manusialah yang meraasakan dirinya ditendang dari surga, dan dirinya yang merasa ditolak oleh sesamanya sesuai persepsi masing-masing. Semua perasaan tersebut merupakan konsekuensi kehidupan modern yang bersifat rutin, dan gambaran akan masalah dasar mengenai ekksistensi manusia.
Maka kita sebagai manusia beragama yang mempunyai pijakan-pijakan yang didasarkan pada nilai-nilai wahyu, hendaknya kita selalu waspada akan semua rangkaian tipu daya kehidupan dunia. Dan hal ini patut kita renungkan sebuah hadits “Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak sekalipun, niscaya kamu ikut memasukinya pula. Para sahabat lantas bertanya; Siapakah mereka yang baginda maksudkan itu ya rasulullah? Rasul pun menjawab Orang-orang yahudi dan nasrani (HR Bukhori). Dan hadits lain menegaskan : “Barangsiapa bertasyabbuh, yakni meniru-niru tingkahlaku suatu kaum, maka ia tergolong daari mereka (yakni termasuk kedalam kelompok kaum yang ditirunya)” (HR Imam Ahmad dan Abu Daud)
Maksud dari hadits diatas adalah hendaknya kita tidak selalu mengikuti trend yang populer di lingkungan kita, kalau kita belum tahu persis, apakah hal tersebut sesuai dengan ajaran islam atau tidak, khususnya dalam gaya hidup makan dan minum? Sebagaimana pula yang ditegaskan rasul “Bahwa jika seseorang meniru perilaku orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan segala adat dan kebiasaan yang melanggar ajaran rasul berarti kita termasuk golongan tersebut. Dan jika telah terjadi demikian adnaya, kita tidak tahu persisi akan kekhawatiran azab Allah segera datang sebelum kita sadar akan kesalahan-kesalahan kita”.

0 comments:

Post a Comment