Jelas bahwa orang tua tidak pernah
punya keinginan membuat frustasi anak-anaknya. Namun tak seorang pun di antara
kita yang sempurna, dan orang tua juga demikian, tidak ada pengecualian.
Dalam artikel ini, saya akan
mendeskripsikan 15 hal yang orang tua sering lakukan tanpa sengaja, yang
melukai (hati) anak-anaknya.
Saya akan menjelaskan terlebih
dahulu bahwa saya sendiri bukan seorang orang tua; semua observasi ini ditulis
dari perspektif anak.
1. Jangan memanggilnya
"bodoh" atau "tak berguna"
Membuat shock bahwa, dalam keadaan
marah, banyak orang tua menyebut anak mereka "bodoh" atau "tak
berguna". Kata-kata kasar seperti ini dapat tetap tertanam di pikiran anak
sepanjang hidupnya.
2. Memutuskan segala sesuatu untuk
anak
Melakukan hal ini dapat membuat
mereka merasa seperti dibatasi dan ia tidak cukup bijak atau pandai untuk
membuat pilihan sendiri.
3. Terlalu menekankan pentingnya
patuh
Beberapa orang tua melakukan segala
hal yang dapat mereka lakukan untuk menjadikan anak patuh, namun ini dapat
'menghancurkan' hubungan (harmonis) orang - anak.
4. Jangan tunjukkan rasa sayang
(secara berlebihan)
Ketika orang tua jarang menunjukkan
rasa sayang, anak mungkinn akan mulai mempertanyakan apakah ia dicintai atau
tidak. (Tetapi terlalu menunjukkan rasa sayang juga bukan merupakan hal yang
bijaksana).
5. Mendisiplinkannya (anak) ketika
orang tua marah
Pendisiplinan (anak) hendaknya
dilakukan ketika orang tua tenang (tidak dalam keadaan marah). Cambuk dan
pukulan di pantat hendaknya bukan merupakan reaksi langsug atas suatu
(kesalahan) yang anak lakukan.
6. Menunjukkan cinta kondisional
(tampak kondisional)
Orang tua melukai anak secara
psikologis ketika mereka menunjukkan cinta dan perhatian hanya ketika ia
melakukan hal baik di sekolah atau ketika ia bertindak baik. Anak-anak perlu
tahu bahwa cinta orang tua mereka tidak mengenal kondisi.
7. Membandingkannya dengan saudara
kandung atau anak lain seusianya
Setiap anak unik, sehingga ia tidak
ingin merasa hidup dalam bayangan orang lain.
8. Memuji atas kemampuannya, bukan
atas usahanya
Memuji anak atas usaha bagusnya akan
mendorong anak mengembangkan kemampuan-kemampuan (skill) baru dan mencoba
hal-hal baru, bukan hanya melakukan tugas-tugas yang sudah menunjukkan bakatnya
(tugas yang sudah dikuasainya).
9. Menetapkan batasan namun tidak
berlaku (bagi) orang tua
Orang tua sering menetapkan batas
berkaitan dengan perilaku, waktu tidur, pekerjaan rumah tangga, dll. Ketika
batas-batas ini tidak terapkan (bagi semua), maka ini akan membuat menjadi
bingung, dan, mungkin, menentang.
10. Membiarkan emosi orang tua
mendapat kepuasan (diperturutkan)
Berdasar observasi yang saya
lakukan, mayoritas kesalahan orang tua muncul ketika orang tua gagal
mengendalikan emosinya. Ketika orang tua membiarkan emosi negatif diperturutkan
(get the better of them), secara tak langsung hal tersebut membolehkan
anak untuk melakukan hal yang sama. Ini mewujud dengan sendirinya dalam bentuk
amarah dan kecemaran remaja.
11. Berusaha mencapai impian yang
tak dapat dicapai melalui anak.
Banyak orang tua hidup melalui
anak-anak mereka. Namun demikian, ini dapat menjadi tidak sehat. Orang tua yang
memaksa anak mereka untuk mempelajari subyek-subyek tertentu atau mengejar
karir tertentu---yang bertentangan dengan harapannya--dapat menyebabkannya
menjadi marah dan jengkel.
12. Terus menyelamatkannya dari
masalah.
Sebagai contoh, ketika anak lupa
membawa buku matematika ke sekolah dan terancam hukuman, banyak orang tua akan
menyelamatkannya dengan membawakan buku ke sekolah untuknya. Namun demikian,
bentuk pengasuhan ini tidak mengajarkannya untuk mengambil tanggung jawab penuh
atas pilihan dan hidupnya.
13. Mengakhiri argumen dengan
mengatakan "Aku tahu apa yang terbaik untukmu"
Orang tua menggunakan kaliman ini
sebagai sejenis kartu kemenangan (trump card), meskipun hampir tidak
pernah efektif. Hendaknya orang tua mengekspresikan betapa besar mereka
mencintai dan peduli kepada anak mereka, bukan malah menekankan fakta bahwa
pilihan (yang dipilihkan orang tua) memiliki konsekuensi yang mesti ia (anak)
tanggung.
14. Melindunginya dari tantangan dan
ketidaknyamanan
Sangat natural bagi orang tua untuk
melakukan ini, namun biasanya ini bukan merupakan hal terbaik bagi perkembangan
jangka panjang anak. Tantangan, ketidaknyamanan dan perjuangan dibutuhkan
mereka untuk menemukan kesuksesan.
15. Membiarkannya menjadi pusat
dunia keluarga (the center of family's universe)
Banyak orang tua keinginan dan
kebutuhan anak untuk menentukan seluruh skedul, rencana keluarga, dll. Namun
ketika ini menjadi sangat ekstrim, lingkungan ruman dapat menjadi heboh dan
penuh tekanan (stressful). Hendakknya orang tua membuat anak menyadari
bahwa ia merupakan seorang anggota penting dalam keluarga, bukan malah (membuat
ia berpikir) bahwa dunia tidak berputar mengelilinginya.
Penutup
Pengasuhan anak bukan sekedar
membesarkan anak. Ini berkaitan dengan penguatan generasi mendatang untuk
menjadi yang terbaik yang dapat mereka capai, dan meletakkan fondasi bagi masa
depan dan dunia yang lebih baik.
Tugas yang sangat mulia dan
monumental seperti itu membutuhkan orang tua yang senantiasa merefleksikan gaya
pengasuhannya, sehingga mereka dapat berkembang maju sebagai orang tua hari
demi hari.
Untuk semua orang tua yang membaca
ini: saya tahu anda siap untuk tugas ini.
(Sumber
: tulisan Daniel Wong - motivationblog4us)
#SPUBerbagi
RSS Feed
Twitter
00:27
faizal cikasose

0 comments:
Post a Comment