Dewasa ini kita selalu dihadapkan
dengan sebuah pernyataan dan kenyataan, bahwa bangsa ini sedang menghadapi
krisis Multi Dimensional. Begitu parah krisis yang dihadapi, sehingga susah
mengambil benang merahnya sisi mana yang lebih dominan dan mana yang harus
didahulukan, bahkan belum ditemukan solusi yang jitu dalam penyelesaiannya,
akhirnya bangsa ini tidak jelas jati dirinya di mata dunia.
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah
Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan
menunaikan zakat, dan tunduk kepada Allah. [QS. Al-Maidah : 55]
Dan barangsiapa yang mengambil
Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka
sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. [QS. Al-Maidah :
56]
Padahal kalau kita berkaca kepada
krisis yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW pada masanya, justru dengan mudah
beliau menyelesaikannya, nyaris penyelesaiannya tanpa kekerasan dan pemaksaan,
justru hanya dengan penerapan akhlakul karimah sebagai andalannya. Strategi
yang dilakukan oleh Rasulullah, sesuai dengan sabdanya 'Ibda' Binafsik yang
artinya "Mulailah dari diri anda".
Jika dilihat makna Ibda' binafsik
secara terminologi sosial, maka kata 'diri' (anfus, nafs), mengingatkan kita
pada 'individu'. (bahwa), "perubahan struktural tak akan pernah terjadi
tanpa didahului perubahan kultural, dan perubahan kultural tak akan pernah
terjadi tanpa perubahan individual," sehingga dapat dikatakan perubahan
individual itu adalah induk dari segalanya.
Melihat akan keberhasilan Nabi Muhammad
SAW dalam mengatasi krisis multi dimensial, sudah saatnya kita menteladaninya
karena beliau adalah contoh teladan terbaik dan tipologi ideal paling prima.
Hal ini digambarkan oleh al-Quran surat Al-Ahzab, 33: 21 yang berbunyi:
"Sesungguhnya pada diri
Rasulullah saw. terdapat contoh tauladan bagi mereka yang menggantungkan
harapannya kepada Allah dan Hari Akhirat serta banyak berzikir kepada
Allah."
Strategi Ibda' Binafsik ( memulai
dari sendiri ) yang dilakukan oleh Rasulullah, didukung oleh beberapa faktor
penting:
Pertama
, kualitas moral-personal yang prima, yang dapat disederhanakan menjadi empat
sebagai sifat wajib bagi Rasul, yakni:
siddiq, amanah, tabligh, dan
fahtanah: jujur, dapat dipercaya, menyampaikan apa adanya, dan cerdas. Keempat
sifat ini membentuk dasar keyakinan umat Islam tentang kepribadian Rasul saw.
Kehidupan Muhammad sejak awal hingga
akhir memang senantiasa dihiasi oleh sifat-sifat mulia ini. Bahkan sebelum
diangkat menjadi Rasul, ia telah memperoleh gelar al-Amin (yang sangat
dipercaya) dari masyarakat pagan Makkah.
Kedua
, Integritas. Integritas juga menjadi bagian penting dari kepribadian Rasul
Saw. yang telah membuatnya berhasil dalam mencapai tujuan risalahnya. Integritas
personalnya sedemikian kuat sehingga tak ada yang bisa mengalihkannya dari
apapun yang menjadi tujuannya.
Ketiga,
kesamaan di depan hukum. Prinsip kesetaraan di depan hukum merupakan salah satu
dasar terpenting
Keempat
, Penerapan pola hubungan egaliter dan akrab. Salah satu
fakta menarik tentang nilai-nilai manajerial kepemimpinan Rasul saw. adalah
penggunaan konsep sahabat (bukan murid, staff, pembantu, anak buah, anggota,
rakyat, atau hamba) untuk menggambarkan pola hubungan antara beliau sebagai
pemimpin dengan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Sahabat
dengan jelas mengandung makna kedekatan dan keakraban serta kesetaraan.
Kelima
, kecakapan membaca kondisi dan merancang strategi.
Keberhasilan Muhammad saw. sebagai seorang pemimpin tak lepas dari kecakapannya
membaca situasi dan kondisi yang dihadapinya, serta merancang strategi yang
sesuai untuk diterapkan. Model dakwah rahasia yang diterapkan selama periode
Makkah kemudian dirubah menjadi model terbuka setelah di Madinah, mengikuti
keadaan lapangan. Keberhasilan Rasul saw. dan para sahabatnya dalam perang Badr
jelas-jelas berkaitan dengan penerapan sebuah strategi yang jitu.
Keenam
, tidak mengambil kesempatan dari kedudukan. Rasul Saw. wafat
tanpa meninggalkan warisan material. Sebuah riwayat malah menyatakan bahwa
beliau berdoa untuk mati dan berbangkit di akhirat bersama dengan orang-orang
miskin. Jabatan sebagai pemimpin bukanlah sebuah mesin untuk memperkaya diri.
Sikap inilah yang membuat para sahabat rela memberikan semuanya untuk
perjuangan tanpa perduli dengan kekayaannya, sebab mereka tidak pernah melihat
Rasul saw. mencoba memperkaya diri.
Kesederhanaan menjadi trade mark
kepemimpinan Rasul saw. yang mengingatkan kita pada sebuah kisah tentang Umar
ibn al-Khattab. Seseorang dari Mesir datang ke Madinah ingin bertemu dan
mengadukan persoalan kepada khalifah Umar ra. Orang tersebut benar-benar
terkejut ketika menjumpai sang khalifah duduk dengan santai di bawah sebatang
kurma.
Ketujuh,
visioner futuristic. Sejumlah hadits menunjukkan bahwa Rasul saw. adalah
seorang pemimpin yang visioner, berfikir demi masa depan (sustainable). Meski
tidak mungkin merumuskan alur argumentasi yang digunakan olehnya, tetapi banyak
hadits Rasul saw. yang dimulai dengan kata "akan datang suatu masa",
lalu diikuti sebuah deskripsi berkenaan dengan persoalan tertentu. Kini,
setelah sekian abad berlalu, banyak dari deskripsi hadits tersebut yang telah
mulai terlihat dalam realitas nyata.
Kedelapan,
menjadi prototipe bagi seluruh prinsip dan ajarannya. Pribadi Rasul Saw.
benar-benar mengandung cita-cita dan sekaligus proses panjang upaya pencapaian
cita-cita tersebut. Beliau adalah personifikasi dari misinya. Terkadang kita
lupa bahwa kegagalan sangat mudah terjadi manakala kehidupan seorang pemimpin
tidak mencerminkan cita-cita yang diikrarkannya. Sebagaimana sudah disebut di
atas, Rasul saw. selalu menjadi contoh bagi apa pun yang ia anjurkan kepada
orang-orang di sekitarnya.
Selaku umat Islam, merupakan
kewajiban bagi kita untuk mengikuti, mencontoh dan menteladani semua perilaku
terpuji rasulullah yang lebih dikenal dengan istilah akhlakul karimah. Akhlakul
karimah tersebut dapat kita temui dalam berbagai literatur baik berupa sirah
nabawiyah, riwayat-riwayat sahabat beliau, maupun firman Allah yang termaktub
dalam Al-Qur'an yang Rasullau selalu memulainya dari diri belia sendiri.
Sebagai Orang tua ketika menyuruh
anaknya untuk tidak merokok atau mengkonsumsi narkoba maka seharusnya kita
memulai diri berkomitmen untuk tidak melakukan hal yang sama (merokok dan
mengkonsumsi narkoba). Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Asshaf : 2.
"Wahai orang-orang yang
beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?" (QS
61 :2)
Wallahua'lam bishowwab
(Sumber
: pusatalquran.com)
#SPUBerbagi
RSS Feed
Twitter
19:14
faizal cikasose

0 comments:
Post a Comment