Tuesday, 28 April 2015



Di tengah berpikir tentang kehidupannya yang susah. Dia membayangkan, betapa pahit dan getirnya liku-liku hidup yang dilaluinya. Jangankan mengharap harta yang lebih, makanan sehari-hari untuk anak istrinya sekalipun, dia tidak mampu memenuhinya. Dia berpikir, bagaimana caranya, dengan satu kalimat yang pendek – hanya dengan satu kalimat – dia bisa mengobati tiga penderitaannya sekaligus ; menguatkan mental, merubah liku-liku hidup dan menyelamatkan diri serta keluarganya dari malapetaka kefakiran dan kemiskinan.
Orang itu adlah sahabat Nabi. Dia hidup dalam suasana yang sangat sengsara dan fakir.
Suatu hari, dia berpikir, bahwa sudah tiba saatnya untuk bertindak. Setelah bermusyawarah dan bertukar pikiran dengan isterinya, dia berniat untuk pergi menghadap Nabi guna menjelaskan penderitaannya, lalu meminta pertolongan beliau.
Sesampainya di majelis Nabi, sebelum dia sempat mengungkapkan hajatnya, dia mendengar Rasulullah berkata,”Barang siapa meminta pertolongan kepada kami, tentu kami akan membantunya. Namun jika dia tidak megulurkan tangannya dan tidak minta pertolongan dari seorang makhluk, maka Allah akan memperkaya dirinya.”
Hari itu dia tidak mengungkapkan apa-apa dan kembali ke rumah dengan tangan hampa. Malangnya, bayangan derita dan kemiskinan yang menyelubungi rumahnya, masih menghantuinya. Keesokan harinya, dengan niat yang sama, dia kembali pergi ke majelis Nabi. Hari kedua ini pun, dia mendengar sabda yang serupa seperti hari sebelumnya : “Barangsiapa yang meminta pertolongan dari kami, tentu kami akan membantunya. Namun jika ia tidak mengulurkan tangannya kepada makhluk-Nya, niscaya Allah akan mencukupinya.” Kali ini pun, dia kembali tanpa sepatah kata yang bisa ia ungkapkan.
Melihat kondisinya yang sangat merana dan tidak menentu, untuk yang ketiga kalinya, dia pergi juga ke majelis Nabi dengan niat yang sama. Dengan nada suaranya yang khas, suara yang menguatkan hati dan menentramkan jiwa, lidah Nabi masih tetap mengulangi kata-kata yang sama seperti hari sebelumnya. Kali ini sabda Nabi, dia rasakan lebih memberikan makna. Terasa seakan dia telah menemukan kunci kesusahannya selama ini. Dia keluar dari masjid Nabi dengan langkah yang lebih mantap. Dia berjanji terhadap dirinya, bahwa dia tidak akan pernah meminta pertolongan dari hamba-hamba Allah. “Aku akan bergantung dan menyerahkan semuanya kepada Allah semata-mata. Aku akan menggunakan sebaik mungkin tenaga dan kekuatan yang Allah amanatkan kepadaku. Aku berharap semoga Dia menjayakanku dalam kerja ini serta memberiku ras cukup,” katanya dalam hati.
“Apa yang dapat kuperbuat ?” pikirnya
Tiba-tiba ia teringatsebuah benda miliknya. “Bukankah gerobak ini akan banyak membantuku?  Pergi ke padang pasir mengumpulkan kayu-kayu kecil, lalu bisa dijual di pasar?” katanya.
Tidak berapa lama kemudian, dia pergi mengambil kayu-kayu kecil, lalu menjualnya di Madinah. Betapa dia merasakan nikmat jerih payahnya ini.
Hari-hari berikutnya, dia melakukan kerja yang serupa sampai akhirnya dia sanggup membeli binatang ternk dan perkakas-perkakas kerja. Tidak berapa lama kemudian jadilah dia seorang yang kaya dan mempunyai banyak budak.
Suatu hari Nabi menghampiri nya. Dengan tersenyum beliau berkata, “Bukankah telah kukatakan bahwa siapa yang minta pertolongan dari kami, tentu kami akan membantunya, namun jika dia ulurkan tangannya hanya kepada Allah, maka Allah akan memperkayakannya?”.
(Dikutip dari Orang-Orang Bijak)
#SPUBerbagi


0 comments:

Post a Comment