Friday, 1 May 2015





Seringkali kita terkesan meremehkan kualitas keimanan seorang manusia muslim  yang lugu. Bila anda seperti itu, maka segeralah belajar untuk tidak meremehkannya. Dalam banyak hal , seorang muslim yang lugu dan sederhana justru juah lebih baik daripada seorang muslim yang disebut sebagai ‘ cendekiawan’ atau ilmuwan.

Dalam kitab Al Imta’ wa Al Mu’’anasah, juga ada sebuah kisah yang mengajarkan kita untuk tidak meremehkan orang-orang yang lugu dan sederhana. Mereka boleh jadi jaug lebih mulia di sisi Allah dibandingkan kita, semoga Allah menutupi aib-aib kita.

Al kisah, pada suatu ketika, Al Hajjaj dalam sebuah perjalanannya singgah beristirahat di jalan panjang menuju Mekkah. Saat ia duduk untuk rehat, ia mengatakan kepada pengawalnya, “Carilah seorang arab badui untuk menemaniku makan siang dan tanyakanlah padanya beberapa perkara.”

Sang pengawal mencari-cari sejenak, hingga akhirnya ia menemukan seorang arab badui – dan kita tahu bahwa arab adui adalah symbol keluguan dan kesederhanaan -. “Penuhilah undangan sang gubernur untuk makan siang bersamanya,” kata sang pengawal.

Maka sang arab badui itu memenuhinya. Ketika ia berada di hadapan Al Hajjaj, sang gubenur itu berkata kepadanya : “Mendekatlah padaku dan makan sianglah bersamaku.”

“Tapi sayang sekali, aku telah diundang oleh yang lebih pantas kupenuhi undanganNya daripada anda,” ujar sang badui.

“Oh, siapakah gerangan dia?” tanya sang gubernur heran.
“Allah Azza wa Jalla. Dia telah mengundangku untuk berpuasa, maka aku pun berpuasa,” jawab sang arab badui.

“Pada siang hari yang amat panas seperti ini?” tanya sang gbernur semakin heran.

“Ya aku berpuasa demi menghadapi sebuah hari yang jauh lebih panas dari hari ini.”

“Berbukalah hari ini dan berpuasalah besok,” pinta Al Hajjaj kepadanya.

“Aku akan memenuhi permintaan anda, bila anda dapat menjamin aku masih hidup hingga keesokan hari.” Ujar sang arab badui itu.

“Tentu saja aku tak dapat melakukan itu,” kata sang gubernur agak terkejut.

“Lalu bagaimana anda memintaku untuk mengganti sesuatu yang kulakukan hari ini pada hari yang akan datang, padahal engkau tidak sanggup untuk memberikan jaminan untuk itu?” tanya sang badui.
“Yah, makanan ini enak sekali. Alangkah sayangnya, bila dibiarkan begitu saja.” Jawab sang Al Hajjaj.

“Bukan anda yang membuatnya enak, bukan pula si tukang masak. Yag membuatnya enak adalah kesehatan  yang dikaruniakan Allah,” kata sang arab badui.

Sang arab badui itu akhirnya tidak turut makan siang bersama sang gubernur, karena tidak ingin membatalkan puasanya. Dan akhirnya, ia memint ijin untuk pergi.

Alangkah cerdasnya arab badui yang lugu dan sederhana. Seperti yang dikatakannya, puasa yang ia lakukan adalah demi melindungi diri di hari yang paling panas, hari kiamat. Dan ini menjadi sebuah pelajaran bagi kita; jangan pernah meremehkan orang-orang lugu dan sederhana. Dalam sebuah hadits, bahkan Rasulullah saw melarang untuk meremehkan seorang miskin yang berpakaian compang camping, sebab boleh jadi “jika ia bersumpah maka Allah akan segera memenuhi sumpahnya.”

(Sumber : pengantin surga)
#SPUBerbagi



0 comments:

Post a Comment