Seringkali kita terkesan
meremehkan kualitas keimanan seorang manusia muslim yang lugu. Bila anda seperti itu, maka
segeralah belajar untuk tidak meremehkannya. Dalam banyak hal , seorang muslim
yang lugu dan sederhana justru juah lebih baik daripada seorang muslim yang
disebut sebagai ‘ cendekiawan’ atau ilmuwan.
Dalam kitab Al Imta’ wa
Al Mu’’anasah, juga ada sebuah kisah yang mengajarkan kita untuk tidak
meremehkan orang-orang yang lugu dan sederhana. Mereka boleh jadi jaug lebih
mulia di sisi Allah dibandingkan kita, semoga Allah menutupi aib-aib kita.
Al kisah, pada suatu
ketika, Al Hajjaj dalam sebuah perjalanannya singgah beristirahat di jalan
panjang menuju Mekkah. Saat ia duduk untuk rehat, ia mengatakan kepada
pengawalnya, “Carilah seorang arab badui untuk menemaniku makan siang dan
tanyakanlah padanya beberapa perkara.”
Sang pengawal
mencari-cari sejenak, hingga akhirnya ia menemukan seorang arab badui – dan
kita tahu bahwa arab adui adalah symbol keluguan dan kesederhanaan -.
“Penuhilah undangan sang gubernur untuk makan siang bersamanya,” kata sang
pengawal.
Maka sang arab badui itu
memenuhinya. Ketika ia berada di hadapan Al Hajjaj, sang gubenur itu berkata
kepadanya : “Mendekatlah padaku dan makan sianglah bersamaku.”
“Tapi sayang sekali, aku
telah diundang oleh yang lebih pantas kupenuhi undanganNya daripada anda,” ujar
sang badui.
“Oh, siapakah gerangan
dia?” tanya sang gubernur heran.
“Allah Azza wa Jalla. Dia
telah mengundangku untuk berpuasa, maka aku pun berpuasa,” jawab sang arab
badui.
“Pada siang hari yang
amat panas seperti ini?” tanya sang gbernur semakin heran.
“Ya aku berpuasa demi
menghadapi sebuah hari yang jauh lebih panas dari hari ini.”
“Berbukalah hari ini dan
berpuasalah besok,” pinta Al Hajjaj kepadanya.
“Aku akan memenuhi
permintaan anda, bila anda dapat menjamin aku masih hidup hingga keesokan
hari.” Ujar sang arab badui itu.
“Tentu saja aku tak dapat
melakukan itu,” kata sang gubernur agak terkejut.
“Lalu bagaimana anda memintaku
untuk mengganti sesuatu yang kulakukan hari ini pada hari yang akan datang,
padahal engkau tidak sanggup untuk memberikan jaminan untuk itu?” tanya sang
badui.
“Yah, makanan ini enak
sekali. Alangkah sayangnya, bila dibiarkan begitu saja.” Jawab sang Al Hajjaj.
“Bukan anda yang
membuatnya enak, bukan pula si tukang masak. Yag membuatnya enak adalah
kesehatan yang dikaruniakan Allah,” kata
sang arab badui.
Sang arab badui itu
akhirnya tidak turut makan siang bersama sang gubernur, karena tidak ingin
membatalkan puasanya. Dan akhirnya, ia memint ijin untuk pergi.
Alangkah cerdasnya arab
badui yang lugu dan sederhana. Seperti yang dikatakannya, puasa yang ia lakukan
adalah demi melindungi diri di hari yang paling panas, hari kiamat. Dan ini
menjadi sebuah pelajaran bagi kita; jangan pernah meremehkan orang-orang lugu
dan sederhana. Dalam sebuah hadits, bahkan Rasulullah saw melarang untuk
meremehkan seorang miskin yang berpakaian compang camping, sebab boleh jadi
“jika ia bersumpah maka Allah akan segera memenuhi sumpahnya.”
(Sumber : pengantin
surga)
#SPUBerbagi
RSS Feed
Twitter
20:12
faizal cikasose

0 comments:
Post a Comment