Monday, 18 May 2015



Jakarta - Depresi dan stres adalah hal umum yang dapat dialami semua kelompok umur, termasuk juga anak-anak. Depresi merupakan suatu kondisi medis yang membuat seseorang bisa berperilaku berbeda daripada biasanya. Ada dua faktor yang menyebabkan depresi di antaranya faktor genetik dan lingkungan.

Seperti dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, berikut beberapa fakta seputar depresi pada anak yang sudah sepatutnya diketahui oleh para orang tua:

1. Jangan menunjukkan depresi di depan anak
Studi menemukan bahwa depresi klinis pada ibu akan memengaruhi anak dan menyebabkan gangguan perilaku dan masalah kesehatan. Pada studi terbaru oleh peneliti dari French National Institute of Health, Paris, efek antara ibu anak ini ternyata ditemukan tetap ada meski gejala depresi tak terlalu parah.

"Ada banyak kelompok ibu-ibu yang mengalami depresi tapi tak cukup parah sampai muncul diagnosis dan sebagian besar tak sampai mencari pelayanan kesehatan. Akan tetapi hal ini tetap punya dampak negatif terhadap kesehatan emosi dan perilaku anak," ujar pemimpin studi Judith van der Waerden.

2. Anak depresi cenderung memiliki masalah tidur
Menurut sebuah studi yang ditulis oleh Flavia Giannotti MD dari Center of Pediatric Sleep Disorders di University of Rome La Sapienza di Italy, 122 dari 200 anak berusia tujuh hingga sebelas tahun mengalami gangguan tidur akibat dari depresi.

"Masalah tidur yang sangat umum dialami anak pada masa pertumbuhannya biasanya berasal dari kelelahan akibat kegiatannya di sekolah dan perlakuan orang tuanya di rumah. Disarankan anak-anak usia sekolah harus mendapatkan 10-11 jam tidur setiap harinya," ucapnya.

3. Gejala awal anak depresi yaitu bermasalah dengan sekolah
Menurut National Institute of Mental Health, menolak untuk pergi sekolah atau berpura-pura sakit bisa jadi merupakan sinyal yang menandakan depresi pada anak. Gangguan mood itu juga menyebabkan anak semakin sulit berkonsentrasi di kelas. Jika Anak menunjukkan perilaku seperti itu, orang tua harus waspada.

4. Teguran terlalu keras bisa picu anak depresi
Mengompol memang dapat memancing kemarahan orang tua. Namun, sebaiknya ayah atau ibu bisa mengatur emosi dan strategi yang baik agar hal itu tidak terluang lagi. Menghadapi anak yang masih ngompol tidak tepat jika dengan memarahi bahkan menghukum anak. Pasalnya, cara ini justru bisa memperparah keadaan. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Child Abuse and Neglect memperingatkan orang tua karena hukuman yang diberikan ternyata bisa berdampak pada siklus mengompol yang lebih sering, depresi dan kualitas hidup anak yang lebih rendah.

"Salah satu hal yang bisa dilakukan orang tua adalah ajarkan untuk buang air kecil sebelum tidur dan berlatuh bangun pergi ke kamar mandi," ucap Dr faten Nabeel Al-Zabeen dari King Abdulaziz University Jeddah. Hal lain seperti mengatur suhu kamar agar tak terlalu dingin, mengganti suasana dan membacakan cerita sebelum tidur tentang buruknya mengompol dapat membantu mengurangi kebiasaan mengompol pada anak.

5. Bullying yang bikin anak depresi bisa berasal dari saudara kandung
Bullying atau tindakan mengganggu dengan intimidasi adalah tindakan yang biasanya dilakukan oleh senior kepada juniornya untuk menunjukkan kekuasaan yang lebih. Dampaknya pada korban, bullying dapat menimbulkan masalah psikologis seperti stres dan depresi.

Peneliti dari University of Oxford yang dipimpin oleh Lucy Bowes mengatakan korban bullying yang dilakukan oleh saudara kandung memiliki risiko dua kali lebih mungkin untuk mengembangkan rasa depresi. Mereka tidak dapat memastikan bahwa bullying yang dilakukan oleh saudara kandung berhubungan langsung dengan rasa depresi dan tindakan menyiksa diri.

(Sumber : Andara Nila Kresna – detikHealth)
#SPUBerbagi

0 comments:

Post a Comment