Keselamatan hidup menjadi dambaaan semua
manusia. Bukan di dunia saja tetapi juga selamat di akhirat. Keinginan itu akan
terlaksana, pertama-tama berkat perlindungan Allah SWT. Karena tidak ada
kekuatan selain Dia Yang Maha Agung (QS. Al Kahfi : 39). Diikuti pula dengan
upaya setiap orang, agar tetap berada di jalan keselamatan dan terhindar dari
marabahaya.
Sebagai bekal upaya mencari keselamatan,
Nabi Muhammad saw telah memberi pedoman secara garis besar, “Jagalah lisanmu,
berilah kelapangan kepada keluargamu, dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.”
(HR Imam Turmudzi).
Menjaga lisan (ucapan perkataan) menjadi
hal utama pangkal keelamatan. Karena lisan merupakan alat komunikasi yang
paling sering dan paling banyak digunakan, dibandingkan dengan pancaindera
lain. Lisan nyaris bekerja nonstop, termasuk waktu tidur jika mengigau.
Kalau pancaindera lain, terdiri lebih
dari satu, seperti telinga, mata, lubang hidung, tangan dan kaki, semua
sepasang. Sementara lisan atau mulut hanya satu.
Para ahli fa’al (watak manusia)
menyatakan, sumber lisan hanya satu agar manusia mampu menghemat kata-kata dan
ucapan, sehingga yang keluar hanya yang bernilai. Yang membawa dan member
keselamatan kepada pengucapnya dan pendengarnya. Penggunaan lisan hanya dua
pilihan, yaitu berkata bagus atau sama sekali diam, sebagai bagian dari iman kepasa Allah dan hari
akhir.
Sabda Rasulullah saw, “Barang siapa
beriman kepada Allah dan hari akhir,
maka bicaralah yang baik atau diam.” (HR Imam Bukhari).
Makna yang tersirat dari hadits
tersebut, jika orang tidak mampu berbicara baik, melulu melontarkan kata-kata
keburukan, penuh fitnah (mengada-ada), ghibah (membuka aib orang lain), namimah (mengadu domba) dan tidak dapat diam
menutup mulut, dapat dikategorikan orang yang tidak beriman kepada Allah da
hari akhir. Kemungkinan mendapat marabahaya akibat kata-kata buruknya itu.
Menjaga lisan atau jika berkata yang
baik-baik saja, akan menjadikan seorang muslim berjiwa utama. Para sahabat
bertanya kepada Rasulullah, siapakah orang muslim paling utama? Jawab
Rasulullah saw, “Orang yang lisan dan tangannya membawa selamat kepasa muslim
lainnya.” (HR Imam Muslim).
Oang yang mampu menjaga lisan dengan
berkata hanya yang baik-baik akan bayak awan, karib kerabat yang selalu
menolong, saling jaga keselamatan masing-masing.
Allah SWT membolehkan manusia banyak
bicara dalam tiga hal, yaitu menyuruh manusia bermurah hati (suka memberi
sedekah), menyuruh berbuat baik (amar ma’ruf), dan mengadakan perdamaian di
antara sesama manusia. (QS. An Nisa’ : 114)
Pedoman keselamatan kedua, yaitu memberi
kelapangan kepada keluarga. Setiap orangtua, terutama bapak, sebagai kepala
rumah tangga memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga di bidang pangan
(kebutuhan makan minum sehari-hari), papan (tempat tinggal), pakaian dan
pendidikan. Oleh karena itu, dari lingkungan keluarga yang lapang, terjamin
kelayakan hidupnya, akan terwujud rumah tangga yang harmonis (sakinah),
tenteram (mawaddah), kasih mengasihi (rahmah). Akan lahir anak-anak yang saleh,
berbakti kepada ibu bapak dan selalu mendoakan orangtuanya agar mendapat rahmat
magfirah dari Allah SWT.
Pedoman keselamatan terakhir adalah
menangisi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Baik kesalahan kepada Allah
SWT, berupa pelanggaran terhadap perintah dan larangan-Nya, maupun kesalahan
kepada sesama manusia (bertengkar, dendam, khianat dsb).
Untuk memperbaiki kesalahan kepada Allah
SWT, ditempuh proses tobat, sebenar-benarnya tobat (tobat nasuha) sesuai dengan
perintah Allah SWT, “Wahai sekalian orang beriman, bertobatlah kepada Allah
dengan sebenar-benarnya tobat.” (QS. Ath Tharim : 8). Tobat dari segala dosa,
akan memperoleh keberuntungan berkat ampunan Allah (QS. An Nuur : 31).
Sementara menghapus dosa kepada sesama manusia yaitu dengan cara memohon maaf,
menjalin silaturahim dan saling menjaga ucapan dan perasaan, agar tidak timbul
salah faham, percekcokan dan perseturuan.
(Sumber : H Usep Romli HM – Pikiran
Rakyat)
#SPUBerbagi
RSS Feed
Twitter
19:51
faizal cikasose

0 comments:
Post a Comment