Tuesday, 2 June 2015




Keselamatan hidup menjadi dambaaan semua manusia. Bukan di dunia saja tetapi juga selamat di akhirat. Keinginan itu akan terlaksana, pertama-tama berkat perlindungan Allah SWT. Karena tidak ada kekuatan selain Dia Yang Maha Agung (QS. Al Kahfi : 39). Diikuti pula dengan upaya setiap orang, agar tetap berada di jalan keselamatan dan terhindar dari marabahaya.

Sebagai bekal upaya mencari keselamatan, Nabi Muhammad saw telah memberi pedoman secara garis besar, “Jagalah lisanmu, berilah kelapangan kepada keluargamu, dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.” (HR Imam Turmudzi).

Menjaga lisan (ucapan perkataan) menjadi hal utama pangkal keelamatan. Karena lisan merupakan alat komunikasi yang paling sering dan paling banyak digunakan, dibandingkan dengan pancaindera lain. Lisan nyaris bekerja nonstop, termasuk waktu tidur jika mengigau.

Kalau pancaindera lain, terdiri lebih dari satu, seperti telinga, mata, lubang hidung, tangan dan kaki, semua sepasang. Sementara lisan atau mulut hanya satu.

Para ahli fa’al (watak manusia) menyatakan, sumber lisan hanya satu agar manusia mampu menghemat kata-kata dan ucapan, sehingga yang keluar hanya yang bernilai. Yang membawa dan member keselamatan kepada pengucapnya dan pendengarnya. Penggunaan lisan hanya dua pilihan, yaitu berkata bagus atau sama sekali diam,  sebagai bagian dari iman kepasa Allah dan hari akhir.

Sabda Rasulullah saw, “Barang siapa beriman  kepada Allah dan hari akhir, maka bicaralah yang baik atau diam.” (HR Imam Bukhari).

Makna yang tersirat dari hadits tersebut, jika orang tidak mampu berbicara baik, melulu melontarkan kata-kata keburukan, penuh fitnah (mengada-ada), ghibah (membuka aib orang lain),  namimah (mengadu domba) dan tidak dapat diam menutup mulut, dapat dikategorikan orang yang tidak beriman kepada Allah da hari akhir. Kemungkinan mendapat marabahaya akibat kata-kata buruknya itu.

Menjaga lisan atau jika berkata yang baik-baik saja, akan menjadikan seorang muslim berjiwa utama. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, siapakah orang muslim paling utama? Jawab Rasulullah saw, “Orang yang lisan dan tangannya membawa selamat kepasa muslim lainnya.” (HR Imam Muslim).

Oang yang mampu menjaga lisan dengan berkata hanya yang baik-baik akan bayak awan, karib kerabat yang selalu menolong, saling jaga keselamatan masing-masing.

Allah SWT membolehkan manusia banyak bicara dalam tiga hal, yaitu menyuruh manusia bermurah hati (suka memberi sedekah), menyuruh berbuat baik (amar ma’ruf), dan mengadakan perdamaian di antara sesama manusia. (QS. An Nisa’ : 114)

Pedoman keselamatan kedua, yaitu memberi kelapangan kepada keluarga. Setiap orangtua, terutama bapak, sebagai kepala rumah tangga memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga di bidang pangan (kebutuhan makan minum sehari-hari), papan (tempat tinggal), pakaian dan pendidikan. Oleh karena itu, dari lingkungan keluarga yang lapang, terjamin kelayakan hidupnya, akan terwujud rumah tangga yang harmonis (sakinah), tenteram (mawaddah), kasih mengasihi (rahmah). Akan lahir anak-anak yang saleh, berbakti kepada ibu bapak dan selalu mendoakan orangtuanya agar mendapat rahmat magfirah dari Allah SWT.

Pedoman keselamatan terakhir adalah menangisi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Baik kesalahan kepada Allah SWT, berupa pelanggaran terhadap perintah dan larangan-Nya, maupun kesalahan kepada sesama manusia (bertengkar, dendam, khianat dsb).

Untuk memperbaiki kesalahan kepada Allah SWT, ditempuh proses tobat, sebenar-benarnya tobat (tobat nasuha) sesuai dengan perintah Allah SWT, “Wahai sekalian orang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya tobat.” (QS. Ath Tharim : 8). Tobat dari segala dosa, akan memperoleh keberuntungan berkat ampunan Allah (QS. An Nuur : 31). Sementara menghapus dosa kepada sesama manusia yaitu dengan cara memohon maaf, menjalin silaturahim dan saling menjaga ucapan dan perasaan, agar tidak timbul salah faham, percekcokan dan perseturuan.

(Sumber : H Usep Romli HM – Pikiran Rakyat)
#SPUBerbagi

0 comments:

Post a Comment