Keteguhan
Ibrahim ‘alaihissallam Dalam Mendakwahkan Tauhid Kepada
Ayahnya
Unsur terpenting
dalam proses penyucian jiwa ialah dengan menegakkan tauhidullah, menjadikannya
sebagai pilar utama sehingga mempengaruhi unsur-unsur lain dalam jiwa. Apabila
tauhid seseorang baik, maka baik pula unsur lainnya. Demikian sebaliknya, apabila
tauhid seseorang buruk, hal itupun akan sangat berpengaruh dalam setiap gerak
langkah kehidupannya. Dan kita berharap semoga AllahSubhanahu wa Ta’ala selalu
memberikan taufik dan petunjuk-Nya.
Dalam mempelajari
perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissallam, kita akan mendapatkan
diri beliau sebagai insan yang sangat teguh dan gigih dalam menegakkan hak
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung, yakni tauhid. Hal ini
dapat terlihat dalam beberapa moment, di antaranya:
1. Dakwah Tauhid
Kepada Ayah Beliau ‘Alaihissallan Dengan Sabar Dan Penuh Santun.
Al-Hafihz Ibnu
Katsiir rahimahullah berkata, “Penduduk negeri Harran adalah
kaum musyrikin penyembah bintang dan berhala. Seluruh penduduk bumi adalah
orang-orang kafir kecuali Ibrahim ‘alaihissallam, isterinya, dan
kemenakannya, yaitu Nabi Luth ‘alaihissallam. Ibrahim ‘alaihissallam terpilih
menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghapus
kesyirikan tersebut dan menghilangkan kebatilan-kebatilan yang sesat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan kepadanya
kegigihan sejak masa kecilnya. Beliau diangkat menjadi Rasul, dan Allah Subhanahu
wa Ta’ala memilihnya sebagai kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala pada
masa berikutnya.
Awal dakwah
tauhid yang beliau ‘alaihissallam tegakkan, ialah diarahkan
kepada ayahnya, karena ia seorang penyembah berhala dan yang paling berhak
untuk diberi nasihat (Al-Bidayah wan-Nihayah, juz 1, hal: 326).
Syaikh
as-Sa`di rahimahullah berkata,”Ibrahim ‘alaihissallam adalah
sebaik-baik para nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, … yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan
kenabian pada anak keturunnya. Dan kepada mereka diturunkan kitab-kitab suci.
Dia telah mengajak manusia menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala,
bersabar terhadap siksa yang ia dapatkan (dalam perjalanan dakwahnya), ia
mengajak orang-orang yang dekat (dengannya) dan orang-orang yang jauh, ia
bersungguh-sungguh dalam berdakwah terhadap ayahnya bagaimanapun caranya…”
(Tafsir as-Sa`di, hal: 443.)
Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
“Ingatlah ketika ia
berkata kepada ayahnya; “Wahai Ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang
tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong engkau sedikitpun?”.
(QS. Maryam:42).
Lihatlah,
bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissallam mendakwahkan tauhid
kepada ayahnya dengan ungkapan sangat lembut dan ucapan yang baik untuk
menjelaskan kebatilan dalam perbuatan syirik yang dilakukannya?! (Tafsir
as-Sa`di, hal: 444). Penolakan ayahnya terhadap dakwah itu tidak menyurutkan
semangat serta sikap sayang terhadap ayahnya dengan tetap akan memintakan
ampunan, sekalipun permohonan ampun itu tidak dibenarkan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Disebutkan dalam firman-Nya,
“Dan permintaan
ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya tidak lain hanyalah karena
suatu janji yang telah diikrarkan kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi
Ibrahim bahwa ayahnya adalah musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala ,
maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang
sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 114).
Dalam usaha yang
lain, Ibrahim berdialog dengan ayahnya:
“Dan (Ingatlah)
di waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar. ‘Layakkah engkau menjadikan
berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu
dalam kekeliruan yang nyata’.” (QS. Al-An’am: 74).
Syaikh as-Sa’di
berkata,”Dan ingatlah (terhadap) kisah Ibrahim ‘alaihissallam manakala
Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji dan memuliakannya saat ia
berdakwah mengajak kepada tauhid dan melarang dari berbuat syirik.” (Tafsir
as-Sa`di, hal: 224).
Demikian,
perjuangan dakwah tauhid yang disampaikan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam kepada
kaumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai
bagian dari ayat-ayat Alquran yang akan selalu dibaca dan dipelajari secara
seksama.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata
kepada kaumnya: ‘Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya, yang demikian itu
lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui’.” (QS. Al-Ankabut: 16).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata
dalam menafsirkan ayat ini: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkabarkan
tentang hamba-Nya, Rasul dan kekasih-Nya, yaitu Ibrahim ‘alaihissallam sang
imam para hunafa`, bahwa ia ‘alaihissallam berdakwah mengajak
kaumnya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’alasemata dan
tidak ada sekutu bagi-Nya, mengikhlaskan-Nya dalam ketakwaan, memohon rezeki
hanya kepada-Nya, dan mengesakan-Nya dalam bersyukur.” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz
3, hal: 536).
Keteguhan dakwah
tauhid yang diperjuangkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam juga
termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat
al-Anbiya` ayat 51-56. Dan dalam beberapa ayat disebutkan, bahwa dakwah tauhid
kepada ayah dan kaumnya dilakukan secara bersamaan, seperti tersebut dalam
surat asy-Syu`ara ayat 69, dan ash-Shaffat ayat 84.
2. Nabi
Ibrahim ‘alaihissallam Tegar Dan Tabah Menghadapi Ujian Dan
Siksaan.
Sikap ini
tercermin dalam kisah beliau ‘alaihissallam saat berdakwah
mengajak manusia untuk bertauhid dan mengesakan Allah Subhanahu wa
Ta’ala, namun kebanyakan menolaknya dengan penuh kenistaan. Ketabahan Nabi
Ibrahim ‘alaihissallam ini menjadi teladan bagi setiap dai
dalam mengajak manusia menuju jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Kisah ketabahan Nabi Ibrahim ‘alaihissallamdiabadikan
dalam Alquran melalui firman-firman-Nya. Meskipun kaumnya dengan kuatnya untuk
membakar dirinya, namun Nabi Ibrahim ‘alaihissallam tetap
tabah dan menyerahkan segala perkara kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
Ibrahim berkata:
“Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah
yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. Mereka berkata:
“Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim;lalu lemparkanlah dia ke
dalam api yang menyala-nyala itu”. Mereka hendak melakukan tipu muslihat
kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. (QS. Ash-Shaffat:
95-98).
As-Suddi rahimahullah berkata:
“Mereka menahannya dalam sebuah rumah. Mereka mengumpulkan kayu bakar, bahkan
hingga seorang wanita yang sedang sakit bernadzar dengan mengatakan ‘sungguh
jika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan bagiku
kesembuhan, maka aku akan mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Ibrahim’.
Setelah kayu bakar terkumpul menjulang tinggi, mereka mulai membakar setiap
ujung tepian dari tumpukkan itu, sehingga apabila ada seekor burung yang
terbang di atasnya niscaya ia akan hangus terbakar. Mereka mendatangi Nabi
Ibrahim ‘alaihissallam kemudian mengusungnya sampai di puncak
tumpukan tinggi kayu bakar tersebut”. Riwayat lain menyebutkan, ia diletakkan
dalam ujung manjaniq.
Nabi
Ibrahim ‘alaihissallam mengangkat kepalanya menghadap langit,
maka langit, bumi, gunung-gunung dan para malaikat berkata: “Wahai, Rabb!
Sesungguhnya Ibrahim akan dibakar karena (memperjuangkan hak-Mu)”
Nabi Ibrahim
berkata, “Ya, Allah, Engkau Maha Esa di atas langit, dan aku sendiri di bumi
ini. Tiada seorang pun yang menyembah-Mu di atas muka bumi ini selainku.
Cukuplah bagiku Engkau sebaik-baik Penolong.” (Fathul-Bari, Juz 6, hal: 483).
Mereka lantas
melemparkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam ke dalam tumpukan kayu
bakar yang tinggi, kemudian diserukanlah (oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala): “Wahai api, jadilah dingin dan selamat bagi Ibrahim.” (Tafsir
ath-Thabari, Juz 9, hal: 43).
Ibnu Abbas dan
Abu al-Aliyah, keduanya berkata: “Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak
mengatakan ‘dan selamat bagi Ibrahim,’ niscaya api itu akan membinasakan
Ibrahim ‘alaihissallam dengan dinginnya.” (Tafsir ath-Thabari,
Juz 9, hal: 43).
3. Yakin Terhadap
Kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla
Pada saat Nabi Ibrahim
diletakkan di ujung manjaniq, ia dalam keadaan terbelenggu dengan tangan di
belakang. Kemudian kaumnya melemparkan Nabi Ibrahim ‘alaihissallam ke
dalam api, dan ia pun berkata: “Cukuplah Allah ‘Azza wa Jalla bagi
kami, dan Dia sebaik-baik Penolong”.
Sebagaimana
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhuma, ia berkata:
(cukuplah Allah ‘Azza wa Jalla bagi
kami dan Dia sebaik-baik penolong)” telah diucapkan Nabi Ibrahim‘alaihissallam tatkala
ia dilemparkan ke dalam api (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari, Juz 8, hal: 288,
no. 4563).
Demikianlah, Nabi
Ibrahim ‘alaihissallam sangat yakin dengan kebesaran,
pertolongan dan perlindungan Allah ‘Azza wa Jalla , karena
beliau sedang memperjuangkan hak Allah ‘Azza wa Jalla yang
terbesar, yakni tauhid dalam beribadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Perintah
Allah Subhanahu wa Ta’ala Berada Di Atas Segalanya
1. Kisah dalam
hijrah bersama Hajar dan Ismail (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari, Juz 6, hal:
478, no. 3364).
Ketika Ismail
baru saja dilahirkan dan dalam penyusuan ibunya (Hajar), Nabi Ibrahim ‘alaihissallammembawa
keduanya menuju Baitullah pada dauhah (sebuah pohon rindang) di atas zam-zam.
Saat itu, tidak ada seorangpun di Makkah, dan juga tidak ada sumber air.
Nabi
Ibrahim ‘alaihissallam meninggalkan jirab, yaitu kantung yang
biasa dipakai untuk menyimpan makanan. Kantung itu berisi kurma untuk keduanya.
Juga meninggalkan siqa` (wadah air) yang berisi air minum. Kemudian Nabi
Ibrahim ‘alaihissallam berpaling dan pergi. Hajar mengikutinya
sembari berkata: “Wahai, Ibrahim! Kemana engkau akan pergi meninggalkan kami di
lembah yang sunyi dan tak berpenghuni ini?” Hajar mengulangi pertanyaan itu
berkali-kali, namun Ibrahim tidak menoleh, tak pula menghiraukannya. Kemudian
Hajar pun bertanya: “Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
telah memerintahkan engkau dengan ini?”
Ibrahim
menjawab,“Ya.”
Mendengar jawaban
itu, maka Hajar berkata: “Jika demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak
akan meninggalkan kami”. Lantas Hajar kembali menuju tempatnya semula. Adapun
Ibrahim, ia terus berjalan meninggalkan mereka, sehingga sampai di sebuah
tempat yang ia tak dapat lagi melihat isteri dan anaknya. Ibrahim pun
menghadapkan wajah ke arah Baitullah seraya menengadahkan tangan dan berdoa: Ya
Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah
yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang
dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka
jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah
mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. [QS. Ibrahim ayat 37).
2. Kisah
Penyembelihan Ismail.
Nabi
Ibrahim ‘alaihissallam berdoa: “Wahai Rabb-ku, karuniakanlah
untukku anak yang shalih,” maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan
kabar gembira kepadanya dengan kehadiran seorang anak yang mulia lagi penyabar.
Dan tatkala anak itu saat mulai beranjak dewasa berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata kepadanya: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”
Isma’il menjawab:
“Wahai Ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk
orang-orang yang sabar”.
Saat keduanya
telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya),
(nyatalah kesabaran keduanya). Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggilnya:
“Wahai Ibrahim, sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya, demikianlah
Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini
benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami menebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di
kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Yaitu) ‘Kesejahteraan yang
dilimpahkan kepada Ibrahim’. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mukminin. Kisah ini dijelaskan
di dalam Alquran dalam surat ash-Shaffat ayat 99-111.
Dalam Tafsir
al-Qurthubi, Juz 18, hal: 69 dan Tafsir al-Baghawi, Juz 4, hal: 33, Ibnu Abbas
berkata:
Ibrahim dan
Isma’il … keduanya taat, tunduk patuh terhadap perintah Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Ingatlah, renungkanlah kisah itu … ketika keduanya akan
melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan tulus dan
tabah sang anak berkata:
“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku
tak lagi bergerak.”
“Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar
darahku tidak mengotori bajumu, maka akan berkurang pahalaku, dan (jika nanti)
ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”
“Dan tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah
gerakan pisau itu di leherku agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh
kematian itu amat dahsyat.”
“Wahai Ayah,
apabila engkau telah kembali maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan
apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka lakukanlah.”
(Saat itu, dengan
penuh haru) Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang
sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala “.
Dalam Shahih
Qashashil-Anbiya Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah
ujian Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kekasih-Nya (yakni
Ibrahim ‘alaihissallam) untuk menyembelih putranya yang mulia dan
baru terlahir setelah beliau berumur senja. (Ujian ini terjadi) setelah Allah
memerintahkannya untuk meninggalkan Hajar saat Ismail masih menyusui di tempat
yang gersang, sunyi tanpa tumbuhan (yang dimakan buahnya), tanpa air dan tanpa
penghuni. Ia taati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala itu,
meninggalkan isteri dan putranya yang masih kecil dengan keyakinan yang tinggi
dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Maka
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka kemudahan,
jalan keluar, serta limpahan rezeki dari arah yang tiada disangka. Setelah
semua ujian itu terlampaui, Allah menguji lagi dengan perintah-Nya untuk
menyembelih putranya sendiri, yaitu Ismail ‘alaihissallam. Dan
tanpa ragu, Ibrahim menyambut perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala itu
dan segera mentaatinya. Beliau ‘alaihissallam menyampaikan
terlebih dahulu ujian Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut
kepada putranya, agar hati Ismail menjadi lapang serta dapat menerimanya,
sehingga ujian itu tidak harus dijalankan dengan cara paksa dan menyakitkan.
Subhanallah…
3. Perintah
Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Ibrahim untuk Berkhitan.
Pada saat
Ibrahim ‘alaihissallam telah mencapai umur senja (delapan
puluh tahun), ia diuji oleh AllahSubhanahu wa Ta’ala dengan
beberapa perintah, di antaranya agar beliau berkhitan. Sebagaimana hadits Abi
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ibrahim ‘alaihissallam berkhitan
di usia beliau delapan puluh tahun.” (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari (Juz 6,
hal: 468, no. 3356)).
Beliau ‘alaihissallam berkhitan
dengan pisau besar (semisal kampak). Meskipun terasa sangat berat bagi diri
beliau ‘alaihissallam, namun hal itu tidak pernah membuatnya merasa
ragu terhadap segala kebaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bahkan dalam sebuah riwayat, Ali bin Rabah radhiyallahu ‘anhumenyebutkan
bahwa : “Beliau (Ibrahim ‘alaihissallam) diperintah untuk
berkhitan, kemudian beliau melakukannya dengan qadum. Maka Allah Subhanahu
wa Ta’ala mewahyukan ‘Engkau terburu-buru sebelum Kami tentukan
alatnya’. Beliau mengatakan: ‘Wahai Rabb, sungguh aku tidak suka jika harus
menunda perintah-Mu’.” (Shahih Bukhari dan Fathul-Bari, Juz 6, hal: 472)
4. Perintah
Allah Subhanahu wa Ta’ala Untuk Membangun Ka`bah.
“Dan (ingatlah),
ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan
mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan
sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang
beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah kepada manusia
untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan
kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang
jauh,” (QS. Al-Hajj: 26-27).
Dalam Shahih Bukhari
disebutkan, bahwasanya Ibrahim ‘alaihissallam berkata: “Wahai
anakku, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan
aku sesuatu”.
Ismail ‘alaihissallam menjawab:
“Lakukanlah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada engkau”.
Ibrahim ‘alaihissallam bertanya:
“Apakah engkau (akan) membantuku?”
Ismail ‘alaihissallam menjawab:
“Ya, aku akan membantu engkau”.
Ibrahim ‘alaihissallam berkata
lagi: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
memerintahkan aku untuk membangun disini sebuah rumah”. (Nabi Ibrahim ‘alaihissallam mengisyaratkan
tanah yang sedikit tinggi dibandingkan dengan yang ada di sekelilingnya). Saat
itulah keduanya membangun pondasi-pondasi. Dan Ismail ‘alaihissallam membawa
kepada ayahnya batu-batu dan Ibrahim‘alaihissallammenyusunnya. Sehingga,
ketika telah mulai tinggi, ia mengambil batu dan diletakkan agar Ibrahim ‘alaihissallamdapat
naik di atasnya. Demikian, dilakukan oleh keduanya, dan mereka berkata:
“Ya Rabb kami
terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 127).
Dari pemaparan
kisah-kisah di atas, banyak pelajaran penting dan berharga yang dapat dipetik,
di antaranya:
- Nabi Ibrahim ‘alaihissallam adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala yang amat taat kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’alamenjadikannya sebagai hamba yang sangat disayangi.
- Pilar utama upaya tazkiyyatun-nufus adalah dalam hal tauhid. Dan berdakwah menyeru kepada tauhid merupakan amanat yang dipikul para nabi, dan sekaligus menjadi panutan bagi setiap dai.
- Kesabaran dalam mendakwahkan tauhid dan ketabahan dalam menghadapi ujian di jalan itu, harus dilakukan sesuai dengan cara yang dicontohkan oleh para rasul ‘alaihissallam.
- Yakin terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam mengarungi kehidupan.
- Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal terpenting di atas segalanya. Ketulusan hati dalam melaksanakan segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kebahagiaan. Maka selayaknya kita berupaya secara maksimal untuk melaksanakannya diiringi doa memohon taufik serta kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Segala contoh kebaikan telah ada pada diri para Rasul ‘alaihissallam yang harus selalu menjadi suri tauladan bagi kita dalam setiap hal. Wallahul Musta`an..
(Sumber : Ustadz Rizal
Yuliar – kisahmuslim.com)
#SPUBerbagi
RSS Feed
Twitter
21:16
faizal cikasose

0 comments:
Post a Comment