Segala puji hanyalah milik
Allah. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga
beliau, shahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Surga, siapa diantara kita yang
tidak ingin masuk ke dalamnya? Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Penduduk
surga bisa mendapatkan apa saja yang mereka inginkan di dalam surga. Dan di
sisi Kami ada tambahan kenikmatan” (QS. Qaaf : 35). Allah Ta’ala juga berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Aku siapkan untuk
hamba-hamba-Ku yang shalih apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum
pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia” (HR. Bukhari).
Kaum muslimin yang dimuliakan
Allah, tentu kita semua ingin masuk surga. Terlebih lagi, di dalam surga
terdapat puncak kenikmatan yang diidam-idamkan setiap muslim, yakni memandang
wajah Allah Ta’ala. Namun, jalan menuju surga
tidaklah mudah. Oleh karena itu, dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh
untuk bisa istiqomah dalam menempuh jalan menuju surga.
Sifat
mukmin yang dijamin masuk surga
Dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berikan jaminan padaku dengan enam perkara dari diri
kalian, akan aku jamin surga untuk kalian : (1) Jujurlah jika berbicara (2)
penuhilah jika kalian berjanji (3) tunaikanlah jika kalian diberi amanah (4)
jagalah kemaluan kalian (5) tundukkan pandangan kalian (6) tahanlah tangan
kalian” (HR. Ahmad, Hakim, dan
lain-lain. Lihat Silsilah Ash Shahihah no. 1470).
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menybutkan enam sifat mukmin yang dijamin masuk surga. Semoga
Allah memudahkan kita untuk memiliki keenam sifat tersebut.
Sifat
ke-1: Jujur jika berbicara
Kejujuran adalah sebuah akhlak
yang sangat mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian wajib untuk jujur. Sesungguhnya kejujuran
akan mengantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan akan mengantarkan kepada surga” (HR. Muslim). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kejujuran adalah jalan yang lurus dimana orang yang
tidak menempuh jalan tersebut, dia akan celaka dan binasa. Dengan kejujuran
inilah, akan terbedakan siapakah yang munafik dan siapakah orang yang beriman,
dan siapakah yang termasuk penduduk surga dan siapakah yang termasuk penduduk
neraka” (Madaarijus Salikin, 2/ 257).
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita dari bahaya dusta. Beliau bersabda, “Hati-hatilah kalian dari dusta. Sesungguhnya dusta akan
mengantarkan kepada maksiat, dan maksiat akan mengantarkan kepada neraka” (HR. Muslim). Termasuk perbuatan dusta yang sering diremehkan
adalah berdusta dengan tujuan melawak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah orang yang berdusta dalam berbicara supaya
orang lain tertawa. Celaka dia! Celaka dia!” (HR. Abu Dawud).
Oleh karena itu, mari kita
biasakan untuk jujur, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jujurlah ketika
bicara, ketika ujian, ketika berjualan, ketika bekerja, ketika mengisi data
untuk keperluan tertentu, dan lainnya.
Sifat
ke-2 : Memenuhi janji
Memenuhi janji adalah diantara
sifat seorang mukmin. Adapun tidak memenuhi janji adalah diantara sifat
munafik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga : Jika berkata maka
berdusta, jika diberi amanah maka berkhianat, dan jika berjanji maka melanggar”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Diantara bentuk tidak memenuhi
janji adalah orang tua yang menjanjikan anaknya yang sedang menangis dengan
mengatakan “Diam nak… Nanti bapak belikan mainan” . Setelah anaknya diam,
ternyata si ayah tidak membelikannya mainan. Ini termasuk menyelisihi janji.
Dan diantara bentuk tidak memenuhi janji juga adalah terlambat mengembalikan barang
pinjaman atau membayar hutang padahal sudah dijanjikan waktu pengembaliannya,
terlambat memenuhi waktu perjanjian yang mana waktunya telah disepakati, dan
lainnya. (lihat Akhlak-akhlak Buruk karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd, hal. 52-56).
Sifat
ke-3 : Menunaikan amanah
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah memerintahkan
kalian untuk menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya” (QS. An Nisaa : 58). Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahmengatakan, “Amanah itu
pembahasannya luas sekali. Dan pada intinya, amanah ada pada dua hal : amanah
yang berkaitan dengan hak-hak Allah, yakni amanah yang diemban seorang hamba
untuk beribadah kepada Allah dan amanah yang berkaitan dengan hak manusia” (Syarh
Riyadhus Shalihin, 2/463).
Maka, beribadah kepada Allah
juga merupakan amanah yang harus ditunaikan seorang hamba. Amanah tersebut
berkaitan dengan hak Allah. Adapun amanah yang berkaitan dengan hak manusia
contohnya adalah barang titipan dari seseorang, jabatan atau kekuasaan, serta
rahasia yang harus dijaga.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga
mengatakan, “Menunaikan amanah adalah tanda-tanda keimanan seseorang. Jika
engkau menjumpai seseorang yang memegang amanahnya, menunaikannya dengan
sebaik-baiknya, maka ketahuilah dia adalah orang yang kuat imannya. Sebaliknya,
jika engkau mengetahui bahwa dia berkhianat, ketahuilah bahwa dia orang yang
lemah imannya” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/464).
Sifat
ke-4 : Menjaga kemaluan
Di dalam Al Qur’an, Allah
menerangkan bahwa diantara sifat seorang mukmin yang beruntung adalah orang
yang menjaga kemaluannya. Allah berfirman (yang artinya), “dan orang-orang
yang menjaga kemaluannya, kecuali kepada istri-istri atau budak-budak mereka,
maka mereka itu tidak tercela. Adapun orang-orang yang mencari selain itu,
mereka adalah orang yang melampaui batas”(QS. Al Mu’minuun : 5-7).
Maka, mukmin yang beruntung
adalah yang menjaga kemaluannya. Adapun orang yang tidak menjaganya dengan
berzina atau onani, maka dia adalah orang yang melampaui batas. Allah berfirman
(yang artinya), “Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah
perbuatan keji dan jalan yang buruk” (QS. Al Israa : 32). Imam Ahmad mengatakan,
“Aku tidak tahu ada dosa yang paling besar setelah membunuh selain zina” (Al
Jawaabul Kaafi, hal. 162).
Kaum muslimin yang dimuliakan
Allah, sesungguhnya dibalik kenikmatan semu zina terdapat kepedihan dan
kesengsaraan. Sungguh indah ungkapan seorang penyair :
Kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang
melakukan keharaman akan sirna…
Dan yang tersisa adalah kerendahan dan
kehinaan…
Dan akhir dari kenikmatan haram tersebut
adalah keburukan…
Tidak ada kebaikan pada suatu kelezatan jika
dibaliknya adalah neraka…
Sifat
ke-5 : Menundukkan pandangan
Allah berfirman (yang artinya),
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, hendaknya mereka menundukkan
pandangannya dan menjaga kemaluan mereka. Sesungguhnya itu lebih suci bagi
mereka”(QS. An Nuur : 30).
Ibnul Qayyim mengatakan,
“Pandangan adalah penunjuk jalan serta utusan syahwat. Menjaga pandangan adalah
modal pokok untuk menjaga kemaluan. Siapa yang tidak menjaga pandangannya, dia
telah menempatkan dirinya ke tempat kehancuran” (Al Jawaabul Kaafi, hal.
216). Oleh karena itu, menjaga kemaluan tergantung kepada menjaga pandangan.
Orang yang mampu menjaga pandangannya, akan mampu menjaga kemaluannya dengan
izin Allah.
Maka jagalah pandangan dari
lawan jenis. Orang yang mampu menjaga pandangannya, Allah akan menerangi
hatinya dengan cahaya. Ibnul Qayyim mengatakan, “Menundukkan pandangan akan
memberikan cahaya dan kemuliaan kepada hati yang akan nampak pengaruhnya pada
mata, wajah, dan anggota tubuh lainnya sebagaimana melepaskan pandangan akan
memberikan kegelapan kepada hati yang akan nampak pengaruhnya pada wajah dan
anggota tubuh lainnya” (Raudhatul Muhibbin, hal.
73).
Sifat
ke-6 : Tidak menganggu orang lain
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang menyakiti
laki-laki dan wanita yang beriman tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat,
sungguh mereka telah menanggung kedustaan dan dosa yang nyata” (QS. Al Ahzab : 58). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim adalah seseorangyangkaum musllimin
selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (Muttafaqun ‘alaih).
Seorang muslim adalah orang yang
tidak menganggu saudaranya, temannya, maupun tetangganya. Mereka merasa aman
dengan kehadiran dirinya. Adapun orang yang suka mengganggu atau menyakiti
orang lain, baik dengan lisan maupun tangannya, maka dia bukanlah seorang
muslim yang sejati.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap muslim itu bersaudara. Maka tidak boleh
menzhaliminya, menelantarkannya, mendustakannya, ataupun menghinanya. (Lalu
beliau bersabda) Cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat keburukan jika ia
menghina saudaranya sesama muslim. Darah, harta, dan kehormatan setiap muslim
atas muslim lainnya adalah haram (untuk diganggu)” (HR. Muslim)
Segala
taufik hanya ditangan Allah
Kaum muslimin yang dirahmati
Allah, itulah enam sifat seorang mukmin yang dijamin oleh Rasulullahshallallahu
‘alaihi wa sallam untuk masuk surga. Kita memohon kepada Allah
agar memberikan kita taufik-Nya serta membantu kita untuk melaksanakan keenam
sifat tersebut, karena tiada daya dan upaya melainkan dari Allah Ta’ala. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha mendengar lagi mengabulkan
do’a.
(Sumber : Yananto Sulaimansyah
- buletin.muslim.or.id)
#SPUBerbagi
RSS Feed
Twitter
19:45
faizal cikasose

0 comments:
Post a Comment