Kaum muslimin
yang dirahmati Allah Ta’ala, menimba ilmu adalah sebuah amalan yang sangat
utama. Karena dengan ilmu itulah seorang bisa memetik manfaat untuk
dirinya dan menebar faidah untuk sesama. Ilmu adalah warisan yang ditinggalkan
oleh para nabi untuk umat manusia. Kebutuhan manusia kepada ilmu jauh lebih
besar daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki
kebaikan padanya maka Allah akan pahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan
Muslim). Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa ilmu adalah kunci kebaikan.
Karena ilmu adalah imam/pemimpin atas amalan. Beramal tanpa ilmu akan
menimbulkan banyak kerusakan dan kekacauan.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan dalam
rangka mencari ilmu (agama) maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju
surga” (HR. Muslim). Menimba ilmu adalah jalan menuju surga. Karena surga hanya
akan dimasuki oleh orang-orang yang bertakwa. Sementara ketakwaan tidak bisa
diwujudkan apabila tidak dilandasi dengan ilmu.
Ilmu adalah jalan
menuju kemuliaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan sebab Kitab ini (Al-Qur’an) sebagian
kaum dan akan merendahkan dengan sebab itu pula sebagian kaum yang lain” (HR.
Muslim). Maknanya, orang yang memahami dan mengamalkan Al-Qur’an akan diberikan
kemuliaan sedangkan orang yang tidak mau memahami dan mengamalkannya maka akan
dihinakan. Oleh sebab itu, ilmu adalah gerbang menuju keutamaan.
Ilmu adalah jalan
menuju kebaikan dan keteladanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan
mengajarkannya” (HR. Bukhari). Mempelajari Al-Qur’an tentu tidak hanya terbatas
pada cara membacanya, tetapi juga mencakup tafsirnya, penjelasan faidah dan
hukum yang terkandung di dalamnya.
Ilmu adalah jalan
menuju petunjuk dan keselamatan. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka
barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan sesat dan tidak
akan celaka” (QS. Thaha : 123). Ibnu ‘Abbas menafsirkan, “Allah memberikan
jaminan kepada siapa saja yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang
terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan
celaka di akhirat.” (Tafsir At Tobari). Oleh sebab itulah kebutuhan manusia
kepada ilmu sangatlah besar. Imam Ahmad berkata, “Umat manusia jauh lebih
membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena
makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali saja. Adapun
ilmu dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.” (disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam
Miftah Daar as-Sa’aadah). Sungguh benar apa yang telah beliau katakan… Bukankah
setiap hari di dalam sholat kita berdoa kepada Allah memohon hidayah kepada
jalan yang lurus? Ya, sebagaimana doa yang selalu kita baca ‘ihdinash shirathal
mustaqim’ yang artinya, “Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus.” Setiap
hari kita membacanya minimal 17 kali. Hal ini menunjukkan kepada kita besarnya
kebutuhan setiap insan terhadap ilmu dan hidayah dari Allah.
Ilmu yang wajib
untuk kita pelajari itu adalah ilmu agama; yaitu ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Karena dengan berpegang teguh dengan keduanya seorang muslim akan bisa selamat
di dunia dan di akhirat. Ilmu yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah Ta’ala
dan melahirkan ketakwaan kepada-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu
Mas’ud, “Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakikat ilmu
itu adalah rasa takut -kepada Allah-” (Al Fawa’id, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah).
Dan diantara ilmu agama ini maka ilmu tauhid merupakan ilmu yang paling pokok
dan paling utama. Sebab tauhid adalah asas dan pondasi agama Islam. Tidak akan
masuk surga kecuali orang yang bertauhid, dan tidaklah selamat dari neraka
kecuali orang yang bertauhid. Tauhid itu adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam
beribadah. Sebagaimana ayat yang setiap hari kita baca ‘iyyaka na’budu wa
iyyaka nasta’in’ yang artinya, “Hanya kepada-Mu ya Allah, kami beribadah dan
hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” Tauhid inilah hikmah dan tujuan
penciptaan diri kita. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku
ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS.
Adz-Dzariyat : 56). Para ulama menafsirkan, bahwa yang dimaksud beribadah di
sini adalah bertauhid. Karena ibadah tanpa tauhid tidak akan diterima di sisi
Allah Ta’ala, walaupun orang itu banyak melakukan sholat, puasa, dan sedekah
akan tetapi jika dia berbuat syirik maka lenyaplan amal-amal kebaikannya. Allah
Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada
orang-orang sebelummu; Jika kamu berbuat syirik maka pasti akan lenyap seluruh
amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi” (QS.
Az-Zumar : 65). Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan Kami hadapi
segala amal yang dahulu mereka lakukan kemudian Kami menjadikannya bagaikan
debu-debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan : 23).
Marilah kita
cermati keadaan umat manusia. Banyak orang yang lalai dan lupa terhadap ilmu
tauhid ini. Di saat yang sama, banyak sekali manusia yang begitu bersemangat
dan rela mencurahkan segalanya demi mencari ilmu-ilmu selainnya. Mereka rela
menghabiskan waktunya, hartanya, dan mengorbankan apa saja demi mengumpulkannya
dan menjadi ahli di bidangnya sementara dalam masalah tauhid -yang itu adalah
masalah paling utama dan paling dibutuhkan olehnya- mereka justru lalai dan
seolah tidak peduli. Kebaikan seperti apakah yang bisa kita raih apabila kita
tidak memahami tauhid? Kemuliaan seperti apakah yang bisa kita capai apabila
tauhid kita telantarkan? Kejayaan seperti apakah yang ingin kita dapatkan
apabila tauhid dan keikhlasan dicampakkan? Imam Malik berkata, “Tidak akan baik
generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki generasi
awalnya.” Umar bin Khaththab mengatakan, “Kami adalah suatu kaum yang telah
dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Maka kapan saja kami mencari kemuliaan
dengan selain Islam, niscaya Allah merendahkan kami” (HR. Al-Hakim dalam
Al-Mustadrak, shahih).
Bukankah generasi
pertama umat ini mencapai kebaikan dan kemuliaan dengan tauhid dan keikhlasan?
Bukankah mereka berjaya karena berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah?
Bukankah menimba ilmu adalah jalan menuju surga? Lalu apakah yang menghalangi
kita dari menimba ilmu tauhid dari Al-Qur’an dan As-Sunnah?
Apakah untuk
urusan dunia dan hura-hura kita bisa meluangkan waktu dan pikiran kita, sementara
untuk urusan akhirat dan agama kita tidak bisa?! Apakah kita sudah lupa kalau
kita setiap hari berdoa kepada Allah meminta petunjuk tujuh belas kali,
kemudian kita justru malas dan enggan untuk mencari ilmu agama?
(Sumber : Ust.
Ari Wahyudi, S.Si - Buletin At-Tauhid
edisi 20 Tahun XI)
#SPUBerbagi
RSS Feed
Twitter
20:41
faizal cikasose

0 comments:
Post a Comment