Saudaraku
semuslim…
Sungguh heran, orang yang
mengetahui bahwa kematian itu benar adanya, bagaimana dia bisa berbahagia?
Neraka itu benar adanya, bagaimana dia bisa tertawa? Sungguh heran, orang yang
mengetahui perputaran dunia, bagaimana dia bisa merasakan ketenangan? Dan
sungguh heran, orang yang mengetahui bahwa takdir itu benar adanya bagaimana
dia bisa merasakan keletihan?
Aku melihat zaman
yang terus berputar,
tidak ada
kesedihan yang terus-menerus atau kebahagiaan yang abadi.
Para raja telah
membangun berbagai istana,
akan tetapi tidak ada sang raja atau
istana yang kekal.
Sedangkan kita semua di dunia
ini hanya bermain-main dan lalai. Inilah suara yang berseru, suara Bilal bin
Sa’ad, beliau berkata, “Wahai orang-orang yang
bertakwa, sesungguhnya kalian tidak diciptakan untuk kefanaan (dunia), yang
kalian alami hanyalah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sebagaimana
kalian telah pindah dari tulang rusuk ke rahim sang ibu, dari rahim ibu ke
dunia, dari dunia menuju kuburan, dari kuburan menuju Mahsyar, dan dari Mahsyar
menuju kekekalan di Surga atau di Neraka.”
Sebuah perjalanan yang
berturut-turut dan waktu yang silih berganti, beberapa perjalanan telah kita
tempuh, dari tulang rusuk sang ayah menuju rahim sang ibu. Dan di sini kita
sedang berjalan menunggu fase berikutnya, yaitu kuburan.
Demi Allah, sebenarnya kita ada
dalam kelalaian. Jika tidak, bagaimana kita merasa indah mengarungi kehidupan
sedangkan di belakang kita adalah kuburan, alam Mahsyar, lalu kepada kekekalan…
berbagai hal yang menakutkan?
Abu Bakar al-Marwazi rahimahullah berkata, “Pada
suatu hari aku mendatangi Imam Ahmad, lalu aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana
keadaanmu pagi ini?’ Beliau menjawab, ‘Bagaimanakah keadaan orang yang dituntut
oleh Rabb-nya untuk melaksanakan kewajiban yang dituntut oleh Nabinya untuk
melakukan Sunnah, yang dituntut oleh jiwanya untuk memenuhi hawa nafsunya,
dituntut oleh dua Malaikat untuk memperbaiki amal, dituntut oleh jiwanya untuk
memenuhi hawa nafsunya, dituntut oleh Malaikat
Maut dengan kematian, dan dituntut oleh keluarganya untuk memberikan nafkah.’”
Inilah dunia, kita bertengkar
dan berperang di atasnya. Marilah kita melihat muka-muka yang cerah, yaitu
orang-orang yang mengetahui harga sebuah waktu di dunia ini…
Abu Dhamrah meriwayatkan dari
Shafwan bin Salim, beliau berkata, “Aku
melihat beliau tidak memiliki bekal amal sedikit pun jika dikatakan kepadanya,
‘Besok Kiamat.’”
Aku melihat
senjata-senjata yang menjaga manusia
dan aku
menyaksikan kehormatan yang diraih tetapi tidak dijaga.
Mereka mengatakan
bahwa ini adalah zaman yang jelek,
padahal merekalah yang telah
melakukan kerusakan sedangkan zaman sama sekali tidak melakukannya.
Sebagian Salaf berkata, “Siapa yang mengaku benci akan dunia, maka dia pembohong
sehingga aku tahu kebenaran perkataan tersebut. Jika benar, maka dia adalah
orang gila.”
Karena dunia ini adalah ladang
untuk akhirat, di sana seorang hamba membekali dirinya dengan ketaatan dan amal
shalih, artinya dia adalah salah satu di antara dua orang yang mencari dunia,
bagaimana dia membencinya sedangkan dia di atas tunggangannya? Dan yang lainnya
adalah orang yang mencari akhirat, bagaimana dia bisa membenci waktu menanam
dan beramal.?
Sebagian orang bijak berkata, “Bagaimana seseorang berbahagia dengan dunia
sedangkan satu hari miliknya merusak satu bulan, satu bulan miliknya
menghancurkan satu tahun, dan satu tahun miliknya menghancurkan seumur
hidupnya. Bagaimana dia berbahagia sedangkan umurnya mengantarkannya kepada
ajal dan kehidupan mengantarkannya kepada kematian.”
Fudahil bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Aku
merasa heran terhadap seseorang yang mengenal Allah tetapi ia berbuat maksiat
kepada-Nya setelah mengenal-Nya.”
Sejelek-jelek
rumah kalian adalah dunia dan penghuninya,
dan bukalah
lembaran-lembaran hidup dari para pencintanya.
Allah Mahatahu
bahwa aku sama sekali tidak menyukainya,
dan tidak mau
tinggal sesaat pun di dalamnya.
Akan tetapi aku
berguling-guling dalam kekotorannya di satu masa,
dan aku
membentangkannya dalam beberapa waktu lalu menggulungkannya.
Hari-hari aku
menyeret buntut dalam permainannya karena bodoh,
dan aku pun
meruntuhkan sebagian dari agamaku.
Berapa banyak aku
menanggung dosa-dosa dengan tidak congkak,
dosa-dosa yang
tidak dapat dihitung.
Kukatakan, Aku
tinggal hanya untuk menghancurkan apa-apa,
yang telah aku
bangun di dalamnya dan untuk membersihkannya dari kotoran.
Sedangkan di
belakangku adalah siksaan yang tidak dapat aku hentikan,
sehingga aku
meringankan beban dan melemparkannya.
Semoga lautan ampunan
sedang pasang,
jika dia tidak
mengenaiku, maka cipratannya
akan membasahiku dan
membersihkannya.
Sumber : Ad-dun-yaa Zhillun Zaa-il, ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Pustaka
Saudaraku
tercinta…
Engkau berjalan di dunia ini…
dan di sana ada satu hari di mana perjalananmu akan dihentikan dan sebuah
kafilah akan bertemu denganmu, akan tetapi:
Jika engkau tidak
melakukan perjalanan dengan membawa bekal berupa ketakwaan,
dan kelak engkau
akan berjumpa dengan orang yang berbekal setelah mati.
Maka engkau akan
merasa menyesal,
mengapa tidak sepertinya dan tidak
berbekal diri seperti dirinya yang berbekal diri.
Saudaraku
tercinta, di manakah kita diantara mereka?
Diriwayatkan dari Hafsh
al-Ju’fi, beliau berkata, “Dawud ath-Tha-i
mendapatkan harta warisan dari ibunya sebanyak empat ratus dirham, dengan itu
ia membeli makanan pokok selama tiga puluh tahun. Dan ketika uang itu habis, ia
mulai merobohkan atap rumahnya untuk dijual.”
‘Umar bin Ayyub berkata, Abusy
Sya’na (Jabir bin Zaid) berkata, “Wahai
‘Umar, aku sama sekali tidak memiliki harta duniawi kecuali seekor keledai.”
Sangat mudah baginya hisab dan
perjalanan, sedangkan kita, apa yang kita miliki dan apa yang kita harapkan?
(Sumber : Ibnu Katsir, ihwansalafy.wordpress)
#SPUBerbagi
RSS Feed
Twitter
22:02
faizal cikasose

0 comments:
Post a Comment